Menengok Pandai Besi di HSU, Bertahan di Tengah Modernisasi

  • Whatsapp

Wartaniaga.com, Amuntai-Pengrajin pandai besi semakin langka di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU). Lamanya proses pembuatan ditambah pesaing impor menjadi tantangan pengrajin di zaman modern seperti ini menjadi faktornya.

Hairun dan Akhmad contoh pandai besi di Amuntai yang masih bertahan sejak 1976 yang masih menggeluti usahanya. Ayah dan anak warga Gang Manis RT.02 Desa Palampitan Hulu, Kecamatan Amuntai Tengah ini berprofesi sebagai penyepuh besi untuk membuat berbagai alat keperluan seperti parang, linggis, sabit, dan pisau.

Termasuk langka karena mayoritas penduduk di HSU lebih condong menggeluti kerajinan bahan kayu, alumunium, sampai dengan eceng gondok dan purun.

“Orang tua secara turun temurun menggeluti ini, kami mulai menempa dari jam 08.00 sampai 15.00 Wita, sedangkan untuk pesanan paling banyak biasanya dimusim kemarau saat petani mulai berococok tanam atau sedang panen, kalau musim penghujan seperti ini memang sepi pesanan,” ucap Hairun,Senin (13/12)

BACA JUGA:  Bank Indonesia Sebut Tiket Pesawat Penyebab Inflasi

Selama tujuh hingga delapan jam, Hairun mengaku mampu menghasilkan produk dua sampai tiga parang atau linggis berbahan besi ulir pesanan.

“Harganya tergantung jenis bahan yang digunakan dan ukurannya, bila bahan bakunya bagus dan ukurannya lebih panjang dan besar tentunya agak mahal, jadi harganya bervariatif.” ungkapnya.

Pos terkait