“ Harga gula pasir dalam sebulan ini naiknya berkali-kali lipat, belum bawang putih dan merah, bahkan minggu kemarin beras yang harganya biasa 10 ribu rupiah hari ini sudah menjadi Rp 13 ribu perliter, ini bukti kelangaan karena tersendatnya distribusi, ” jelas pemilik perusahaan distributor pupuk dan alat pertanian ini.
Direktur PT Angro Dahlia Profitamas ini melihat saatnya untuk memikirkan bagaimana memperkecil ketergantungan itu dan bahkan mampu swasembada, terlebih lagi bisa menjadi lumbung pangan bagi pulau Kalimantan.
“ Langkah yang tepat sudah dilakukan Gubernur Kalsel, Sahbirin Noor dengan membuka ribuan hektar lahan pertanian di Jejangkit, Batola pada tahun lalu. Tinggal bagaimana menularkan semangat bertani ini ke daerah lain di Kalsel,” paparnya.
Selain itu, sambung pria yang juga pengurus HIPMI Kalsel ini pemerintah harus lebih banyak mengembangkan ilmu pertanian, mengadopsi teknologi dari luar termasuk melakukan penelitian sebagai langkah kemandirian pangan.
“ Perlu dicarikan model pertanian yang modern untuk menarik generasi muda ikut bertani jangan sampai lahan pertanian luas, tetapi petaninya sedikit karena tidak ada generasi menerusnya,” ungkap pria yang selalu tampil sederhana ini.
Meski demikian, Herman berbangga sudah mulai ada petani dibeberapa daerah di Kalsel yang mampu mananam beberapa sayur dan buah yang dulunya hanya didatangkan dari pulau Jawa.
“ Kita patut berbangga juga, setiap tahunnya Kalsel selalu ada program cetak sawah baru, beberapa petani di Tapin sudah sukses menanam bawang merah dan bebarapa buah-buahan seperti buah naga, pepaya sudah berlimpah di Kalsel,” kata Herman.



















