Dhuafa di sepanjang bentang garis operasional perusahaan tambang tidak menjadi keberpihakan oleh kekuatan manapun. Kekuasaan politik dan korporasi bisnis sangat jarang memihak kepada kalangan dhuafa.
Dhuafa dan yatim dianggap tidak memiliki kekuatan yang dapat dijadikan sasaran kepedulian perusahaan di dalam program CSR perusahaan dibanding kelompok penekan lainnya. Alasan itulah dhuafa tak dilirik, sekalipun berada di lingkar terdekat dengan tambang.
Tengoklah kisah Ati, warga pulau Ku’u, Kecamatan Tanta Tabalong. Menderita tumor pada perutnya hingga membesar dan retak perutnya tak pernah tersentuh oleh kemegahan jalan hauling road tambang yang tak jauh dari rumahnya. Ati dilarikan ke rumah sakit dan dirawat karena kepedulian warga sekitar dan komunitas. Para pemudanya menggalang dana di jalan di mana hilir mudik mobil perusahaan, tak juga ada perusahaan tambang yang tergerak.
Beralih kepada seorang nenek bernama Tina di Banyu Tajun. Seorang janda renta yang tetap membanting tulang di usia senja di kebun yang jauh dari rumahnya. Jika dia berangkat pagi, habis Isya dia baru tiba di rumah kembali. Dia menghuni rumah reot hampir roboh, sebelum akhinya masyarakat dan komunitas bahu membahu membuatkannya rumah.
Ada banyak dhuafa dengan tempat tinggal memprihatinkan, seperti mama Rina di hutan Kambitin yang hidup dengan seorang anaknya yang masih kecil tanpa penerang listrik.
Tidak hanya Ati, di Tabalong banyak warga dhuafa yang dihinggapi kanker. Ada yang sudah meninggal dalam perawatan hingga masih bertahan hidup hingga sekarang dengan segala kekurangannya. Ratina warga Desa Suput, misalnya, penderita tumor di bagian wajahnya yang sudah menyelesaikan ujian Allah di dunia, Reski dan Jimi juga harus kembali ke haribaan Allah. Siti masam di Desa Kambitin hingga kini terbaring lemah dan banyak lagi lainnya yang tak tersentuh.


















