Dhuafa tak Boleh Bersuara

  • Whatsapp

Wartaniaga.com– Kalangan dhuafa dan yatim adalah pihak yang sering disebut Allah di Alquran. Misalnya dalam Q.S Al-Isra:“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin, dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.”

Atau pada QS Al Maa’un: “Tidaklah kau lihat orang yang menipu agama? Yaitu mereka yang membiarkan anak-anak yakim (terlantar) dan tidak peduli atas makanan orang miskin.”

Kenapa Allah berpihak kepada kalangan tersebut? Tiada bukan karena dhuafa dan yatim adalah pihak yang tak berdaya. Mereka tak punya kekuatan untuk bersuara dan berpendapat di tengah modernitas dan masuknya investasi raksasa di suatu daerah.
Maka jika di sebuah daerah terdapat kalangan dua golongan tersebut, maka itu mestinya juga dapat dijadikan indikator kebijakan keberpihakan para konglomerasi dan pemerintah untuk memberdayakan mereka.

BACA JUGA:  Kebijakan Relaksasi Kredit untuk Menjaga Stabilitas Perbankan di Tengah Pandemi
Oleh: Erlina Effendi Ilas
(Ketua KS2 & Yayasan Sayangi Sesama Tabalong)

Sebagai kaum marginal dhuafa dan yatim tidak memiliki bargaining power untuk bersuara kepada siapapun. Jangankan kepada pemerintah atau perusahaan – perusahaan besar, kepada tetangganya pun mereka segan mengatakan kesulitannya.

Hanya karena Allah menjamin rezeki setiap makhluk mereka dapat bertahan hidup. Itulah sebabnya Allah sering menyindir kita agar menyisihkan sebagian sedikit yang kita miliki untuk dhuafa dan yatim. Allah sangat memihak dhuafa tapi sayang kita tak pernah membuka hati.

Lihat saja, program CSR perusahaan tambang terbesar di daerah kita, sama sekali tak menyentuh apapun kepada kedua golongan ini. Sasaran CSR perusahan tambang adalah kelompok penekan, seperti para pihak pemilik kekuasaan informal, kekuasaan formal serta aktor pemilik kebijakan di dua sektor formal dan informal. Umumnya tujuannya bukan menciptakantakan empowerman, tapi pembungkaman.

L

Pos terkait