Museum di Rumah Sendiri; Tok Wan Haria, Menunggu Rindu

  • Whatsapp
Museum pribadi TWH

Wartaniaga.com– KETIKA kami datang, lelaki tua berusia 88 tahun itu masih terbaring di tempat tidur. Beberapa tahun terakhir, dia tak bisa lagi berjalan. Tubuhnya mulai lemah. Giginya berangsur punah, sehingga berpengaruh pada intonasi dan lafaz atau kata-kata yang diucapkannya.

Tapi semangatnya masih luar biasa. Jika bicara, daya fikirnya sering menjelajah belahan dunia. Meski tak bisa lagi ke mana-mana, lelaki ini menyedekahkan diri untuk menerima tamu di rumahnya. “Sisa-sisa hidup saya, akan saya wakafkan bagi siapapun yang datang ke sini,” katanya.

Penulis, H Dheni Kurnia (beridri) bersama TWH

Saat kami berkunjung ke  kediamannya, lelaki ini berpindah ke kursi roda. Dibantu oleh seorang anak perempuan dan cucunya, dia menyambut kami di teras rumahnya yang sempit. Dia tersenyum lebar. Matanya tampak sedikit berair. Tak tahu apa karena sedih atau sedang bahagia. Atau pula karena rindu akan masa lalunya.

BACA JUGA:  2020 Diprediksi Menjadi Tahun Penentuan Ekonomi

Lelaki itu adalah H Muhammad Tok Wan Haria (TWH). Seorang veteran dan wartawan senior di Sumatera Utara. Sejak 2019 lalu, ayah 6 anak kelahiran Aceh Utara, 15 November 1932 ini, mengaku menghabiskan seluruh sisa hidupnya dengan menjadi tuan rumah di Museum Perjuangan Pers Sumatera. TWH menyulap rumahnya yang tak terlalu besar, menjadi museum pers yang hanya bisa dihitung jari di Indonesia.

Dengan senyum tulus, TWH menerima kami dan rombongan yang hadir di rumahnya. Bersama saya ada  Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) DI Aceh, Tarmilin Usman, Ketua Komisi Informasi Publik (KIP) Riau, Zufra Irwan, dua Komisioner KIP Sumut, Eddy Syahputra Sormin dan Abdul Jalil. “Mimpi apa saya bisa bertemu dengan pendekar-pendekar pers ini,” kata TWH dengan mata yang sudah separuh basah.

BACA JUGA:  Perpustakaan Terapung, Belajar dan Berwisata di Kota Seribu Sungai

TWH bercerita, keinginan untuk membuat museum pers ini sudah lama diidamkannya. Tapi tak pernah kesampaian. Dia sudah menghubungi banyak orang, banyak pejabat, banyak tokoh dan pengusaha. Tapi di antara orang-orang yang dihubungi, tak banyak yang berminat atau membantu. TWH pun letih sendiri. Akhirnya, dalam kegalauan, dia memutuskan menjadikan rumahnya di Jalan Sei Alas Sikambing No.6 Medan Petisah, sebagai Museum Perjuangan Pers Sumatera.

“Tak akar rotan pun jadi. Tak emas bungkal diasah. Tak jenjang kayu dikeping. Tak dapat numpang di Balai Kota Medan, ya di rumah sayalah,” ujar TWH yang menjadi wartawan sejak tamat SMA,  berpetatah.

L

Pos terkait