Museum di Rumah Sendiri; Tok Wan Haria, Menunggu Rindu

Museum pribadi TWH

TWH menuturkan, sejak museum ini dibuka, tak banyak pejabat yang datang. Kalau dari kalangan praktisi pers, mana yang sempat saja. Tapi pelajar dan mahasiswa, hampir dua ribuan yang berkunjung. Ini yang membuat TWH senang. Apalagi beberapa mahasiswa USU (Universitas Sumatera Utara) dan beberapa universitas lainnya, menjadikan data di museum sebagai bahan skripsi mereka.

Ketika Hari Pers Nasional (HPN) 9 Februari 2021 lalu, Wakil Gubernur Sumut, Musa Rajekshah, sempat berkunjung ke museum. Musa mengaku terpukau melihat berbagai koleksi surat kabar lama serta tokoh-tokoh pejuang pers dan pejuang kemerdekaan RI di Sumatera yang dipajang di museum.  Ketika itu Musa mengatakan, rumah pribadi TWH ini terlalu kecil untuk museum.

“Tempat ini tidak layak menampung semua koleksi TWH. Saya janji mendiskusikan masalah ini dengan  Gubernur Sumut, Pak Eddy Rahmayadi. Saya akan mengupayakan lokasi yang bisa menampung banyak koleksi pers dan terbilang lengkap ini,” janji Musa ketika itu. TWH pun terharu dan tidak mampu membendung tangisnya.

Ketika Bobby Nasution akan maju sebagai Wali Kota Medan, dia juga berkunjung dan meminta doa restu dari tokoh Pers Sumut ini, agar terpilih jadi Walikota.  Meski hujan lebat, Bobby tetap mendatangi kediaman TWH. Dia disambut pemilik rumah dengan mengenakan baju pejuang, lengkap dengan atributnya. Ketika itu TWH mendoakan agar Bobby terpilih sebagai orang nomor satu di Kota Medan.

TWH juga berharap pada Bobby, jika dia terpilih jadi Walikota, bisa membuat kebijakan agar Balai Kota  dijadikan Museum Kota Medan. Karena saat ini, tempat itu telah berubah menjadi restoran, sehingga nilai sejarahnya hilang.

“Saya sungguh meminta, jika Pak Bobby menang, bisa mengembalikan fungsi balai kota sebagai museum dan objek sejarah,”  harapnya saat itu.

Sesungguhnya, kedekatan TWH dan cita-citanya mendirikan Museum Pers, karena dia adalah bagian yang tak terpisahkan dari profesi wartawan. Dari catatan Tribun Medan, sejak kecil, TWH sudah akrab dengan dunia komunikasi. Apalagi ayahnya adalah Kepala Penerangan Tentara Resimen Divisi X yang juga seorang wartawan di Media “Seruan Kita”.

Pada usia 16 tahun, TWH ikut jejak ayahnya menjadi wartawan di Aceh. Beberapa tahun kemudian, dia pun masuk menjadi tentara.  Dalam rapat yang dilakukan Presiden Soekarno di Bireun tahun 1948, dia ditugaskan menjadi Tentara Penerangan untuk penerimaan berita maupun foto serta memberikan informasi kepada masyarakat mengenai kondisi Indonesia pada era kemerdekaan.

Setelah agresi Belanda berakhir, TWH pindah ke Medan. Tahun 1950, dia melanjutkan pendidikan di SMP Josua dan kemudian masuk ke SMA Tagore. Usai pulang sekolah, TWH memberanikan diri untuk melamar pekerjaan di Harian Mimbar Umum pada tahun 1954. Dia diterima di media itu. Tamat SMA, dia fokus menjadi wartawan sehingga bisa keliling wilayah Asia dan ASEAN.

Dalam perjalanan karirnya, TWH  pernah menjadi satu-satunya perwakilan Indonesia untuk meliput pemilihan Presiden Ronald Reagen periode kedua pada tahun 1980-an bersama 27 jurnalis dari seluruh dunia. Di sinilah TWH bisa menginjakkan kaki di  Amerika dan sempat menaiki gedung pencakar langit World Trade Center yang kini sudah runtuh saat peristiwa 11 September 2001.

Tahun 2011, Muhammad TWH mendapatkan “Press Card Number One” atau Kartu Pers Nomor Satu dari PWI Pusat. Tidak semua wartawan senior dapat memilikinya. Press Card Number One adalah bukti bahwa TWH seorang wartawan profesional dengan kompetensi dan integritas tinggi.

Pos terkait