Museum di Rumah Sendiri; Tok Wan Haria, Menunggu Rindu

Museum pribadi TWH

Sebagai pejuang, TWH yang pernah menjadi Humas Legiun Veteran RI Sumut, pernah pula menerima  penghargaan sebagai Tokoh Kurator Komunikasi Jurnalistik dalam ajang  Anugerah Komunikasi Indonesia 2018 di Bandung, Jawa Barat.

Sebagai seorang wartawan hebat, TWH juga seorang penulis handal. Dia sudah menulis 28 buku sejak tahun 1986. Mulai dari buku “Pertarungan di Front Barat Medan Area”  Hingga  buku terbaru berjudul Sejarah Pers dan Pendidikan Dasar Perfilman Sumut “.

Dia juga rajin dan hobi mengumpulkan setiap dokumen pers, sejarah, buku-buku, surat kabar tua, foto-foto, nama-nama pejuang dan perannya, kliping koran dan sebagainya. Mulai dari wilayah Aceh, Sumut dan Sumatera Tengah (Sumbar, Riau dan Jambi). “Harta karun” yang ribuan jumlahnya itulah yang kini memenuhi Museum Perjuangan Pers Sumut. Hebatnya, TWH hapal semua jenis barang yang dikoleksi beserta semua latar belakang sejarahnya.

Kini, TWH memang sedang merindu. Di umurnya yang sudah menginjak 89 tahun, dia rindu ada pihak lain yang akan memindahkan museum dari rumahnya. Dia ingin, agar sejarah Pers di Sumut dan Sumatera, bahkan di Indonesia, tidak hilang begitu saja. Jika kelak dia sudah tiada, semua dokumen penting ini, bisa terawat dan terjaga sepanjang masa.

Menurut Wartawan senior Sumut, H. Ronny Simon, itulah sebabnya, TWH selalu sedih dan menangis jika ada pejabat dan wartawan berkunjung ke rumah dan museumnya. Karena dia berharap, profesi wartawan tidak boleh punah serta ada perhatian pemerintah untuk menjaga warisannya.

Ronny yang sehari-hari mendampingi TWH sebagai Wakil Ketua Museum menyebut, harapan kepada pemerintah Sumatera Utara melalui Wakil Gubernur yang pernah berkunjung dan berjanji, selalu ditunggu dan dirindukan TWH realisasinya.

Juga harapan TWH kepada Bobby Nasution yang kini sudah terpilih menjadi Walikota Medan, menjadi semangat dan harapan hidupnya. Kata TWH, dia merindukan semua janji-janji itu menjadi kenyataan.

“Setahu saya hingga kini, museum ini, ya seperti inilah. Tak ada sesiapun yang membantu. Semua biaya masih kami tanggulangi sendiri. Mulai dari biaya pemeliharaan hingga listrik,  termasuk biaya konsumsi tamu-tamu penting. Saya pun berharap, semua janji ditepati dan saya juga merindukan sebuah museum Pers yang representatif,” kata Ronny Simon yang juga tercatat sebagai salah seorang Ahli Pers di Indonesia.

 

Penulis : H Dheni Kurnia

Ketua Dewan Kehormatan Provinsi (DKP) PWI Riau dan Ketua Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI)  Riau.

Pos terkait