Keterpanggilan Maria Roeslie, Bangkitkan Penggunaan Bahasa Banjar

  • Whatsapp
Keterpanggilan Maria Roeslie, Bangkitkan Penggunaan Bahasa Banjar

Wartaniaga.com, Banjarmasin – Pudarnya Bahasa Banjar pada era ini, rupanya membuat hati Maria Roeslie seniman pantun banjar, tergerak untuk membangkitkan kembali penggunaan bahasa dearah tersebut agar tidak hilang tergerus oleh budaya lain.

Wanita keturunan Tionghoa ini mengaku sedih ketika melihat pemuda sekarang banyak yang tidak mengetahui istilah maupun bahasa khas daerahnya sendiri. Hal ini membuat Maria memutuskan untuk menjadi penulis pantun khas Banjar.

Bangkitkan Penggunaan Bahasa Banjar

Diakuinya, walaupun ia terlahir bukan dari orangtua yang berdarah Banjar, ia sangat menyukai bahasa daerah tersebut. “Jika dituangkan kedalam bentuk tulisan, bahasa Banjar itu lucu. Apalagi kalau memakai bahasa yang jarang digunakan dalam keseharian, Makanya saya suka menulis pantun dengan bahasa Banjar,” ucapnya.

BACA JUGA:  Demo Bawa Berkah Bagi Pedagang Asongan

Menurutnya, bahasa Banjar memiliki ruh tersendiri, berbeda dengan bahasa daerah lain yang ia kuasai. Sehingga membuat pembaca terhibur dan bergembira ketika membaca karya miliknya.

Ia menceritakan pengalamannya sewaktu kecil, neneknya yang juga berdarah Tionghoa sering memberikan kisah-kisah dan pantun yang memakai bahasa Banjar untuk menghiburnya.

“Tiap hari nenek menghibur kami dengan pantun Banjar, bahkan untuk pengantar tidur pun nenek juga menceritakan cerita daerah banjar. Itulah yang membuat saya cinta dengan budaya banjar,” ungkap Maria.

Maka dari itu, wanita yang juga bekerja sebagai pegawai Bank ini mendengar kata unik yang keluar dari mulut neneknya, ia langsung menulis dan mencari arti dari kata tersebut agar bisa dirangkainya menjadi sebuah pantun.

BACA JUGA:  Nasib Wanita Pengumpul Kepala Udang, Merindukan Bantuan

“Dengan cara itu lah saya berusaha mengembalikan keeksistensian bahasa Banjar agar tidak tenggelam ditengah arus globalisasi seperti sekarang ini,” jelasnya.

Penulis pantun yang sudah menggarap 3 buah buku pantun banjar itu mengharapkan para pemuda Kalsel khususnya Banjarmasin jangan meninggalkan bahasa khas daerahnya sendiri. “Karena itu adalah aset budaya yang sangat berharga,” pungkasnya.

Reporter : Fadlan Zakiri
Editor : Muhammad Zahidi
Foto : Fadlan Zakiri

Pos terkait