Literasi Konsumsi di Era Digital

Foto : freepik

Salah satu alasan yang menjadikan batas ketiganya kabur adalah daya tarik pemasaran yang menghanyutkan. Pada cara-cara pemasaran tradisional diperlihatkan keunggulan produk secara langsung oleh produsennya. Hal tersebut telah bergeser di era digital saat ini, konsumen bukan hanya sebagai pihak yang mengkonsumsi, namun dia telah menjelma menjadi agen pemasaran.

Keterlibatan konsumen dalam rantai pemasaran produk dipaparkan oleh Philip Kotler, Hermawan Kertajaya dan Iwan Setiawan dalam buku berjudul Marketing 4.0; Moving from traditional to digital. Pemasaran masa kini yang memanfaatkan secara maksimal teknologi khususnya media sosial untuk meraih konsumen sebanyak-banyaknya. Pola pemasaran yang dimulai dengan rangsangan iklan di satu media konvensional contohnya televisi jadikan konsumen tertarik dengan satu produk tertentu. Perilaku konsumen yang kritis tidak langsung mengkonsumsi produk tersebut.

Produsen yang telah memahami perilaku tersebut menyampung rantai pemasarannya dengan memanfaatkan media baru dalam hal ini internet, beragam ulasan tentang produk disajikan. Mulai dari pembangunan image produk, deskripsi produk hingga perbandingan dengan produk kompetitor. Kemampuan untuk memilih dan memilah informasi merupakan keahlian yang dibutuhkan oleh konsumen dewasa ini. Jawaban-jawaban atas pertanyaannya tentang suatu produk telah menghantarnya untuk membeli produk tersebut maupun produk kompetitornya.

Setelah merasakan sebuah produk, maka akan ada hasilnya, puas dan tidak puas. Pada titik inilah awal dari peran konsumen sebagai agen pemasaran. Konsumen memberikan testimonialnya serta rekomendasinya atas produk yang memuaskan maupun yang mengecewakan. Jaman dahulu perilaku ini telah dijalannya dan dikenal dengan istilah “Gethok Tular”. Dapat dibayangkan dahulu jangkauannya hanya pada orang lain yang bertatap muka secara langsung, namun sekarang tanpa harus bertatap muka, rekomendasi tersebut dapat tersebar secara masiv.

Sebagai contoh, ketika anda menuliskan pengalaman mengkonsumsi produk melalui status media sosial, maka akan memungkinkan terbaca seluas jejaring yang anda miliki. Dan hal tersebut akan terus berantai bagaikan jaring multilevel saat testimonial anda menjadi viral.

Keinginan seseorang untuk mengkonsumsi dapat dilihat sebagai budaya konsumsi. Menurut ahli sosiologi Perancis, Pierre Bourdieu, terdapat dua alasan utama seseorang mengkonsumsi yaitu sebagai pembeda dan pertahanan diri. Istilah distinction digunakan untuk menjelaskan perilaku konsumen yang memiliki tujuan untuk membedakan diri melalui konsumsinya atas produk tertentu. Seperti contohnya seseorang membeli dan memakai tas bermerek dengan tujuan agar nampak lebih berkelas dari yang lainnya.

Sedangkan resistance adalah perilaku konsumsi yang didasarkan pada semangat perlawanan. Sebagai contoh adalah munculnya komunitas perempuan mengenakan kebaya sebagai pakaian sehari-hari di saat gempuran tren mode pakaian modern saat ini. Perilaku konsumsi menuntut kesadaran para pelakunya agar motivasi yang ingin dicapai tidak salah sasaran dan meralih menjadi sekedar tatapan sepintas.

Sebagaimana kegiatan lainnya, mengkonsumsi juga dimungkinkan untuk menjadi berlebihan hingga mampu membuat seseorang kecanduan. Namun ada titik dimana yang menjadikan sakau bukan pada tahap mengkonsumsi produknya tapi pada perilaku berbelanjanya. Jika hal ini terjadi maka kemubaziran akan semakin tak terbendung. Kesenangan memilih dan membeli produk seharusnya dapat disalurkan secara baik. Semangat menjadi pebisnis dihembuskan kencang, inilah saatnya kita menjadi pelaku bukan obyek penderita. Termasuk saat kondisi kecanduan sedang menghinggapi, dibutuhkan kesadaran akan kondisi tersebut untuk dapat mengoptimalisasinya.

Pemanfaatan kecanduan berbelanja antar lain dengan membeli produk untuk dijual lagi untuk mendapat keuntungan, hal tersebut dapat dilakukan jika anda memiliki modal. Gayung bersambut dengan tawaran dari perbankan yang memberikan tenggat waktu pembayaran selama kurun waktu tertentu. Kejelian anda menghitug waktu dipertaruhkan dengan konsekuensi berupa denda jika pada batas tertentu barang anda belum laku dan anda belum memiliki uang untuk membayar tagihan.

Pos terkait