Literasi Konsumsi di Era Digital

Foto : freepik

Belum lagi berapa biaya parkir yang harus dikeluarkan saat anda berpindah-pindah pusat perbelanjaan. Proses konsumsi tidak lagi memakan waktu dan biaya. Fasilitas bebas biaya pengiriman menjadi daya pikat luar biasa yang ditawarkan oleh penyedia aplikasi belanja. Cukup dengan memilih, memesan, membayar dan pesanan diantar ke tujuan. Seseorang tidak perlu lagi merasa malu untuk barang yang bersifat privat dan intim. Tenant-tenant telah menjelma dalam e-commerce dengan spirit Go Digital. Tak cukup dengan kenyamanan itu saja, godaan bertambah dengan adanya banyak promo.

Harbolnas adalah kependekan dari Hari Belanja Online Nasional. Gegap gembitanya melebihi perayaan hari kemerdekaan negeri ini. Belum lagi terjadwal setiap harinya ditawarkan promo potongan langsung dari bank-bank yang mengeluarkan credit card. Kemudahan transaksi yang baru akan ditagihkan pada bulan berikutnya. Serta dimungkinkan untuk mengangsur selama 3 bulan, 6 bulan, 12 bulan, 18 bulan, bahkan hingga 24 bulan dengan bunga 0%. Dapat dibayangkan ketika membeli barang, daya tahannya lebih panjang dari masa kreditnya.

Jangan sampai barang telah habis ataupun rusak sebelum lunas angsurannya. Hal inilah yang sering membuat konsumen menjadi kalap karena tidak berasa mengeluarkan uang saat bertransaksi.

Tawaran perbankan lainnya adalah dalam bentuk point redeem yaitu melalui sejumlah nominal transaksi akan diberikan poin dan apabila telah terkumpul dapat digunakan untuk pembayaran dengan dikonversi menjadi nilai rupiah. Iming-iming lainnya adalah cashback, yaitu pengembalian sejumlah uang sehabis berbelanja.

Celakanya, konsumen tidak bisa mengambilnya dalam bentuk cash, namun hanya dapat digunakan pada transaksi berikutnya. Lingkaran itulah yang sering menyesatkan konsumen, menjadikannya membeli sesuatu bukan berdasarkan kebutuhan, namun keinginan untuk menghabiskan uang kembalian. Kadang malah harus mengeluarkan uang tambahan dan sering kali lebih besar dari uang kembalian sebelumnya. Atau malah membeli sesuatu berdasarkan nominal, bukan lagi kebutuhan maupun keinginan, tapi hanya karena hasrat untuk membeli sudah mulai merajai.

Mari kita kenali batas abu-abu antara kebutuhan, keinginan dan kemubaziran. Konsumsi yang didasarkan atas kebutuhan, menghantarkan konsumen pada pencarian sesuai dengan target yang direncanakan. Sedangkan keinginan, membawa konsumen pada titik harga sebuah lirikan. Istilah lapar mata yang sering dijadikan kambing hitam atas perilaku tersebut. Dan kemubaziran menjadikan seseorang mengkonsumsi tanpa kesadaran sepenuhnya, karena padanya banyak yang terbuang dan tersia-siakan.

Pos terkait