Kisah Kakek Tuna Netra Penjual Bensin

  • Whatsapp
Kakek Tuna Netra Penjual Bensin

Wartaniaga.com,Banjarmasin- Meski sering ditipu pembeli, tidak mematahkan semangat dan tetap sabar untuk tetap berjualan Bahan Bakar Minyak (BBM) dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga. Walaupun mengalami kebutaan sejak kecil.

Mistam Johansyah, seorang kakek tunanetra yang lahir ditahun 1951 di asrama Tatas Banjarmasin, mengawali di tahun 1970-an dengan berjualan BBM eceran ditepi jalan berlokasi di kawasan Jalan Ahmad Yani Km 3,5, Kelurahan Kebun Bunga.

Kakek Tuna Netra Penjual Bensin

Ia menceritakan bahwa sejak usia 5 tahun terjadi demam dan gangguan pada mata. Akan tetapi, dikarenakan harus mengikuti ayahnya seorang Tentara yang pindah tugas ke Jawa Barat, hal tersebut menyebabkan untuk pergi ke Rumah Sakit (RS).

BACA JUGA:  Unik, Polres Tala Fasilitasi Hapus Tato Gratis

“Karena ikut ayah pindah tugas ke Jabar dan saat itu terjadi pemberontakan Kartosuwiryo sehingga sulit ke rumah sakit,”ucapnya saat ditemui wartawan wartaniaga di kios nya, Minggu (22/3).

Ditengah kondisi tidak bisa pergi ke RS, dirinya secara tidak sengaja meneteskan obat merah salah satu obat luka yang mengakibatkan mata Mistam seperti terbakar hingga bola matanya pecah.

Lanjutnya, pada tahun 1955 pulang ke Banjarmasin dan melakukan perawatan di rumah sakit, hingga akhirnya dilakukan operasi mata yang ditangani dokter.

“Disitu saya ikhlas menerima tidak punya bola mata sebelah, pada saat itu tidak ada biaya karena ditanggung pemerintah,” katanya.

Tidak hanya sampai disitu saja, setelah pasca operasi mata sebelah kanan, mata sebelah kiri Mistam juga mengalami hilangnya penglihatan.

BACA JUGA:  Makan Bajamba, Budaya Minang untuk Muliakan Tamu

“Lima tahun setelah mata kanan dioperasi, mata kiri saya tidak bisa melihat,” ungkapnya.

Dengan kondisi tersebut, saat usia Mistam 19 tahun mencari nafkah dengan berjualan BBM eceran dan sampai sekarang selama 50 tahun menggeluti hal tersebut dengan istrinya Jamilah.

“Kadang-kadang bersama istri saya membuka kios dari selepas sholat subuh sampai jam 17.00 Wita,” tuturnya.

Sementara itu, Mistam menceritakan keadaan ekonominya dengan berjualan BBM di tahun 70 an sempat ramai akan pembeli dengan menghabiskan ratusan liter perhari nya, sedangkan dengan sekarang sudah jauh menurun.

“Dulu 100 sampai 200 liter perhari nya, kalau sekarang 10 hingga 40 liter saja. Tetapi kita masih bersyukur dengan rezeki yang diberikan,” bebernya.

BACA JUGA:  Demi Menggugah Minat Baca Remaja, Johan Lakukan Ini

Kendati demikian, di kios BBM Mistam hanya menjual Pertalite dan juga Pertamax karena untuk bensin dirinya tidak bisa menjual lantaran tidak ada yang mengantri ke tempat pengambilan BBM.

BBM Pertalite dan Pertamax yang dibeli dengan harga Rp 86 ribu dan dijual per liter Rp 9 ribu untuk Pertalite dan Rp 10 ribu Pertamax dengan untung Rp 500 rupiah per liternya.

Sedangkan modal berjualan BBM memerlukan modal Rp500 ribu dengan untung Rp60 ribu jika habis semua.

“Pengennya bisa juga jual bensin, biar lengkap sewaktu ada orang mencari bensin ada juga,”pungkasnya.

Reporter/ft : Aya
Editor : Aditya

Pos terkait