Beberapa barang yang sudah dibuatnya itu dipesan dari luar Kalimantan Selatan dengan harga yang murah.
“Kita tahu barang antik yang dibuat sudah sampai ke daerah Jawa, Bali, dan daerah lainnya, namun harga yang mereka beli kepada saya murah, mereka menjual sangat mahal, kita hanya bisa mengelus dada saja,” bebernya.

Barang antik yang diproduksi memiliki kualitas yang baik. Kualitas itu juga yang harus dipertahankannya, sehingga pelanggan masih setia memesan kepadanya. Juga harga yang menentukan pasaran dan kualitas.
Produksi yang diolah itu sesuai permintaan pelanggan, misalnya Hiang yang dijual sekitar Rp 35 Ribu hingga Rp 50 Ribu. Meskipun banyak pemesan, namun pembuatan dengan jumlah banyak dan cepat itu masih menjadi kendala karena minim modal.
Ia mengharapkan adanya bantuan agar bisa memproduksi lebih banyak barang antik yang cepat laku dipasaran dan sebuah toko untuk menempatkan hasil karya agar pembeli dapat langsung datang, tidak melalui orang lain lagi.
“Kita harapkan ada bantuan modal atau toko lah, dan juga promosi agar orang lebih tahu, sehingga calon pembeli langsung datang,” harapnya.
Reporter : Aditya
Editor : Hamdani
Foto : Aditya/1st



















