Loading...
8 views

3 ASUMSI SUKSES YANG TERLARANG

Sahabat wartaniaga, tanpa disadari keputusan-keputusan bisnis yang kita ambil, atau analisa keuangan dan pemasaran yang kita lakukan cukup banyak dipengaruhi oleh “asumsi asumsi bisnis yang belum tentu benar.

Jangan mengira bahwa gosip-mengosip hanya ada di kalangan artis dan selebritis. Sebab, nyatanya di antara pelaku bisnis dan professional pun terjadi. Setidaknya ada tiga “asumsi asumsi bisnis’ yang membuat usaha kita menjadi jalan di tempat, bahkan bubar jalan.

Pertama, sukses dibangun dua hal, yaitu usaha dan keberuntungan. Bahwa untuk untuk sukses orang harus berusaha keras, saya setuju. Tapi, jika dihubungkan dengan factor keberuntungan, bagi saya itu hanyalah sebuah gossip belaka.

Saat Anda mempercayai keberuntungan merupakan hal dominant dalam sukses maka saat itu juga Anda telah melucuti potensi kegigihan. Apa yang saya dapatkan dari pebisnis sukses adalah prinsip selalu berusaha bangkit dari kegagalan setelah berusaha keras. Dan kita tidak pernah tahu di kegagalan nomor berapa kita akan berhasil.

BACA JUGA:  Omnibus Law, Solusi Semrawutnya Perekonomian Indonesia

Kedua, untuk bisa bertemu dengan relasi tokoh yang sangat sibuk, berbohong kecil adalah syaratnya. Artinya, katakanlah kepada sekertarisnya bahwa Anda telah membuat janji penting, walau sebenarnya Anda tidak ada komitmen janji apapun.

Sahabat untuk melanggengkan sebuah kebohongan maka kita cenderung membuat kebohongan baru untuk menutupi kebohongan lama. Berawal dari coba-coba akhirnya menjadi kebiasaan. Sehingga, Anda percaya bahwa sangat sulit untuk sukses di zaman yang super kompetitif tanpa berbohong.

Apakah Anda pernah menyimak laporan survey tentang The Most Outstanding CEO in the world di majalah Fortune? Ternyata, karakter terpenting yang berada di peringkat satu pada top ten CEO adalah kejujuran. Bisnis apapun yang berbasis pada pelayanan konsumen, kata kuncinya adalah trust/kepercayaan. Dan untuk membangun kepercayaan, modal Anda adalah KEJUJURAN.

BACA JUGA:  Problematika Kebijakan Dana Desa

Selanjutnya, yang ketiga dalah kuasailah pikiran orang lain, maka Anda dapat menguasai uangnya. Sahabat wartaniaga, kekuatan dari pikiran dalam kepala kita hanyalah proses dan analisa data.

Loading...

Sedangkan, pusat perubahan dan pusat pengambilan keputusan terletak pada hatinya. Dan bahasa yang paling mudah dan akrab bagi hati adalah KETULUSAN. Maka jika Anda percaya pada gossip bahwa komisi lebih penting dari misi maka saat sukses Andas menjadi lupa.

Sebaliknya, saat gagal Anda akan frustasi. Mendengarkan omongan orang lain memang penting, tapi mendengarkan suara hati tentu jauh lebih penting.

Taufiqur rahman – Trainer, Teraphis, Konsultan 085346743363

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *