Wartaniaga.com, Banjarmasin – Di tengah melimpahnya buah-buahan modern, Kalimantan masih menyimpan kekayaan pangan lokal yang unik dan bernilai tinggi, salah satunya buah kalangkala.
Buah musiman yang dikenal luas oleh masyarakat Banjar ini memiliki tampilan eksotis berwarna merah muda cerah saat matang dan cita rasa gurih yang khas, sehingga kerap dijuluki sebagai “alpukat pink dari Kalimantan.”
Kalangkala merupakan buah yang berasal dari pohon Litsea angulata yang tumbuh subur di kawasan hutan tropis Kalimantan.
Teksturnya yang lembut setelah diolah serta rasa gurih menyerupai alpukat menjadikan buah ini sebagai salah satu kuliner tradisional yang selalu diburu saat musim panen tiba.
Salah seorang pedagang kalangkala, Noor Zakiah, yang berjualan di kawasan Jalan Ahmad Yani Km 10 Banjarmasin setiap pasar tungging (pasar tumpah) Minggu malam, mengatakan buah tersebut masih memiliki banyak peminat meski harganya cukup tinggi. Selain kalangkala, ia juga menjual labu dan kelapa tua untuk kebutuhan sayur-mayur masyarakat.
“Kalau pagi Acil juga jualan di Sungai Andai dan Pasar Jumput Banua Anyar. Kalangkala ini kami dapat dari pemasok, salah satunya dari Barabai. Saat ini satu karung besar harganya hampir mencapai jutaan rupiah, kemudian dijual eceran sekitar Rp7 ribu per piring kecil berisi kurang lebih 10 buah,” ujar Zakiah, Minggu (15/6).
Selain memiliki cita rasa khas, kalangkala juga dikenal kaya akan kandungan nutrisi. Buah ini mengandung lemak tak jenuh tunggal, serat, vitamin, mineral, serta berbagai senyawa antioksidan yang bermanfaat bagi kesehatan tubuh.
Kandungan tersebut dipercaya dapat membantu menjaga kesehatan jantung, memperlancar pencernaan, mengurangi risiko peradangan, hingga mendukung kesehatan kulit.
Sayangnya, keberadaan kalangkala kini semakin jarang ditemukan di pasar modern. Padahal, buah lokal khas Kalimantan ini memiliki potensi besar sebagai sumber pangan bergizi sekaligus warisan kuliner daerah yang patut dilestarikan.
Masyarakat pun diharapkan semakin mengenal dan mengonsumsi buah-buahan lokal seperti kalangkala sebagai bagian dari pola hidup sehat sekaligus upaya menjaga keberlanjutan kekayaan hayati Kalimantan.
Tips Menikmati Kalangkala
Masyarakat umumnya mengonsumsi kalangkala setelah direndam dalam air hangat hingga teksturnya menjadi lembut.
Sebagian orang menambahkan sedikit garam untuk memperkuat rasa gurih alaminya. Cara pengolahan sederhana ini dipercaya mampu menjaga cita rasa sekaligus kandungan nutrisi yang terdapat di dalam buah.
Editor: Eddy Dharmawan



















