Akidi Tio, Ai Lap Yu Pul

Foto : Sinar Harapan

Pekerjaan Nuh hanya buruh lepas harian yang justru bagian yang terkena imbas pandemi. Dia malah tidak bisa bekerja lagi, dan mengingat status pekerjaannya, Nuh termasuk rakyat yang layak menerima bansos.

Dari ceritanya, Nuh mengaku seperti itu. Justru merasa menang kuis dan berhak atas uang senilai Rp.2.550 juta. Dia mengira acara lelang itu kuis Jokowi. Pasti acara bagi-bagi hadiah buat rakyat. Seperti lazimnya kalau Presiden RI bagi-bagi sepeda atau traktor. Dia pun langsung menelpon host lelang. Di sini terjadinya kesalahpahaman.

Begitu sadar keliru, Muhammad Nuh langsung mematikan telpon. Semalaman dia bersembunyi karena takut dicari polisi. ( Baca artikel “Hidup Muhammad Nuh” oleh Ilham Bintang,17 Mei 2020).

Akidi Tio jelas bukan Muhammad Nuh. Keluarga almarhum Akidi Tio menyampaikan sumbangannya dalam acara resmi. Sumbangannya secara simbolik diterima Kapolda Sumsel yang kebetulan mengenal secara pribadi keluarga mendiang. Sedangkan Muhammad Nuh produk salah paham semata, ikut lelangnya secara virtual pula.

Banyak unsur yang membedakan Nuh dengan Akidi. Seperti pengakuannya tadi, Nuh mengira acara lelang yang digagas Ketua MPR-RI, Bambang Soesatyo, acara Kuis. Nuh berpatokan pada nalarnya sendiri . Begitu dia dengar di layar televisi hadiah motor dari Presiden Jokowi, langsung terharu. Kuat melekat dibenaknya: ini pasti bagi- bagi hadiah lagi. Kasihan.

Kembali ke Akidi Tio. Ai lap yu pul, Pak. Terima kasih kepada seluruh keluarga. Semoga kebaikan keluarga besar Akidi Tio bermanfaat besar bagi masyarakat Palembang. Sedangkan penyumbang dibalas berlipat oleh Tuhan Yang Maha Kaya.

 

Penulis : Ilham Bintang

Pos terkait