Pola pengembangan ternak sapi di atas lahan kebun sawit dengan luasan berhektar-hektar bisa diterapkan dua sistem, yakni sistem intensif (dikandangkan) dan sistem terintegrasi (dilepas di kebun sawit).
Keuntungan lain dari pola integrasi ini, katanya, sapi-sapi tersebut bisa digunakan sebagai tenaga kerja mengangkut buah sawit hingga ke pinggir jalan dengan menggunakan gerobak. Pola seperti ini tentu saja sangat menguntungkan petani.
Tak hanya mendorong petani sawit, Pemerintah Provinsi Kalsel di bawah kepemimpinan Gubernur Sahbirin Noor juga memberikan perhatian bagi industri perkebunan sawit skala besar dalam penerapan Siska. Salah satunya adalah penerapan Sistem Integrasi Sapi dan Kelapa Sawit (SISKA) pada perusahaan perkebunan PT Buana Karya Bhakti (BKB),di Satui, Kabupaten Tanah Bumbu.
Berdasarkan catatan yang dirilis Dinas Perkebunan dan Peternakan Kalsel, di perkebunan penerapan Siska dimulai tahun 2016. Awalnya populasi sapinya hanya 300 ekor, namun seiring dengan pertumbuhan sudah mencapai 815 ekor yang dilepas di lahan perkebunan seluas 5.200 hektare. Tak hanya perkebunan inti, PT Buana Karya Bhakti (BKB) memiliki lahan plasma seluas 9.000 hektare yang merupakan potensi peternakan rakyat di sekitar kebun. Saat ini, pola Siska yang dikembangkan di PT BKB adalah 1:5 atau 1 ekor sapi untuk 5 hektare lahan kebun.
“ Perkebunan sawit, sapi merupakan tamu. Sedangkan kebun sawit sebagai tuan rumah.Penerapan penerapan model kemitraan perusahaan perkebunan dengan peternak, melalui Sisksa berbasis agribisnis sebagai alternatif percepatan swasembada sapi di Kalsel, Alhamdulillah didukung pemerintah provinsi dan pemerintah pusat,”ujar Suparmi.
Penerapan Siska yang dikembangkan di PT BKB merupakan role model produksi sapi berbiaya rendah yang ke depannya dapat diduplikasi semua perusahaan besar swasta dan BUMN perkebunan di Kalsel maupun secara nasional.
Editor : Nirma Hafizah




















