Wartaniaga com,Banjarmasin- Ayam ras dan ikan gabus masih menjadi pendorong inflasi terbesar di Kalimantan Selatan (Kalsel). Selain kedua komoditas ini, bahan bakar elpiji, minyak goreng dan sabun mandi cair juga menyusul sebagai pendorong inflasi.
Menurut Kepala Kantro Perwakilan Bank Indonesia Kalsel, Amanlison Sembiring berdasarkan kelompoknya, inflasi di Kalsel terutama bersumber dari kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 0.45% (mtm), pakaian dan alas kaki sebesar 0.41% (mtm) dan diikuti kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar sebesar 0.28% (mtm).
“Secara umum, pasokan pangan dan inflasi di Kalsel masih terkendali dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat. Hal ini, berdasarkan konfrmasi dengan instansi terkait yang tergabung dalam Tim Pengendali Inflasi Daerah di Kalimantan Selatan,” paparnya.
Dia juga menyebutkan bahwa hingga Oktober 2020 ini Kalimantan Selatan mengalami inflasi sebesar 0.22% (mtm) dan 0,19% (ytd) serta 1.03% (yoy), berbeda arah dengan bulan sebelumnya. Sementara Kalimantan mengalami deflasi sebesar 0.03% (mtm), inflasi 0.51% (ytd) dan 1.09% (yoy). Secara nasional, inflasi pada Oktober 2020 sebesar 0.07% (mtm), 0.95 % (ytd) dan 1.44% (yoy).
“Sebagai upaya untuk mendukung pengembangan UMKM khususnya komoditas berpotensi ekspor, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Selatan mengininsiasi pelaksanaan kegiatan “ tambahnya.
Meski demikian, Amanlison mengungkapkan ada beberapa komoditas yang menjadi penahan inflasi seperti sektor prnrrbangan yang sudah mulai membaik.
“Buah Pepaya dan Telur Ayam Ras yang termasuk penahan inflasi di Kalimantan Selatan, disusul angkutan udara yang mulai berangsur angsur pulih bahkan menurut otoriter Bandara mencapai 5000 penumpang setiap harinya. Kemudian buah semangka dan tarif listrik yang juga termasuk penahan inflasi di Kalsel,” ucapnya.
Reporter : Edy Dharmawan
Editor : Nirma Hafizah




















