Untuk diketahui kasus pembegalan simcard dan rekening bank yang saya alami tempo hari, saya tulis pertama kali di laman pribadi saya di FB. Kisah itu kemudian ditake over oleh media-media mainstream dan sekejap setelah itu merebak menjadi isu Nasional. Kita semua sudah tahu ujung kisah ini. Jadi, sebenarnya, dalam konteks kewartawanan kita harus berterima kasih pada penyedia “halaman seluas samudera itu” seperti FB, Yahoo, Google dan sebangsanya yang memfasilitasi pemikiran- pemikiran, gagasan-gagasan kita menyebar ke seluruh dunia.
Saya melanjutkan sambutan saya. Masalahnya, media mainstream, rumah- rumah kita yang puluhan tahun kita didiami luluhlantak dibuatnya. Bukan soal rumah itu betul. Tetapi terutama aktifitas ekonomi media-media kita turut menguap. Semakin hari, iklan yang menjadi sumber pendapatan utama media dan nafkah kita para wartawan menghadapi suasana sakratul maut. Sudah sepuluh tahun terakhir kita menghadapi keadaan ini, belum juga ketemu solusinya. Kita mulai mengutuk penyedia halaman seluas samudera secara gratis itu sebagai bandit bertangan dingin. Tidak berperi kemanusiaan. Kita baru ngeh, halaman demi halaman kita isi di lamannya, tetapi yang menikmati keuntungannya adalah mereka.
Presiden Janji Buat Regulasi Baru
Presiden RI Jokowi telah menunjukkan keprihatinannya. Dalam pidato saat memeriahkan rangkaian acara Hari Pers Nasional Sabtu (8/2) pagi di Banjar Baru, Banjarmasin, Kalsel, Jokowi menjanjikan regulasi baru di bidang digital. Lewat regulasi baru itu diharapkan pencipta dan penyedia layanan digital bersedia membagi penghasilan secara proporsional kepada insan media pengisi konten di Tanah Air.



















