“Ya memang beberapa hari ini telur terus merangkak naik mulai dari 26 ribu perkg dan saat ini masih bertahan 28 ribu/kg untuk penjualan kami,”ujar Ahmad.
Mama Isna kaget beberapa hari yang lalu di membeli di warung sebesar 32 ribu rupiah. “Makanya hari ini ulun beli di pasar Antasari harganya jauh lebih murah yaitu 28 ribu rupiah jadi masih untung 4 ribu, lumayan buat lauk Nasi Kuning dagangan ulun,”ungkapnya.
Lain Ahmad, Rudi salah satu pedagang telur di kawasan Pasar A Yani Veteran Banjarmasin mengungkapkan harga telur lokal yang dijualnya juga naik mengikuti harga dari Jawa.
“Kalau untuk pasokan lokal surplus, tetapi para pedagang telur mengikuti harga dari Jawa, mereka sekarang tinggal buka Internet jadi informasinya cepat. Sehingga mereka juga cepat menyesuaikan harga, bahkan bisa mengurangi penjualan kepada pedagang,”tandasnya.
Sementara itu, Drh Annang Dwijadmiko S, Medik Veteriner Muda dari Dinas Peternakan kota Banjarmasin mengatakan bahwa dinas perikanan kota Banjarmasin tidak bisa menekan harga dipasaran yang melonjak naik dari 28ribu sampai 30 ribu perkgnya.
“Karena kita hanya bisa memantau perkembangan harganya, untuk menentukan besaran harga itu adalah pelaku pasar itu sendiri. Biasanya kami berkordinasi dengan Disperindag dalam menyikapi hal ini,”terangnya.
Yang kita perhatikan lanjutnya, telur ini dari mana asalnya, apakah produksi dari lokal ataukah berasal dari pulau Jawa terutama dari Blitar, Kediri, Tulung Agung dan sekitarnya.




















