Ketua GAPKI Bantah Perkebunan Sawit Salah Satu Penyebab Banjir di Kalimantan

  • Whatsapp

Wartaniaga.com, Banjarmasin – Kegiatan Borneo Palm Oil Forum yang ke-4 dilaksanakan di Banjarmasin dari tanggal 15-16 Desember 2021 bertempat di Hotel Rattan In Banjarmasin Kalimantan Selatan.

Joko Supriono Ketua GAPKI Nasional dalam keterangan jumpa pers bersama media mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan upaya-upaya GAPKI dalam meningkatkan kolaborasi dengan pemerintah untuk melanjutkan industri kelapa sawit berkelanjutan (15/12).

“Selama pandemi industri ini tidak banyak mengalami permasalahan, meskipun ada masih bisa di atasi dengan baik, sehingga operasional perkebunan berjalan dengan normal,”terangnya.

Dia juga menambahkan kinerja dari perusahaan sawit yang bagus dan hal itu sangat membantu bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia dimasa pandemi yang melambat .

BACA JUGA:  Pedagang Pasar Pagi Tolak Pembebasan Lahan

Meskipun dari Eropa adaya upaya-upaya menghambat ekspor Indonesia akan tetapi pemerintah terutama dari pusat tetap melobi agar pertubuhan ekspor sawit makin bagus.

“Hilirisasi Industri juga turut membantu Industri Sawit makin berkembang dan nilainyapun sangat mendongkrak perekonomian di Indonesia,”ujarnya.

Gapki sebagai mitra pemerintah melakukan kolaborasi mulai dari regulasi dimana Gapki dilibatkan menyusun regulasi, minimal bisa memberikan masukan kepada pemerintah.

“Hal ini dilakukan supaya regulasi itu benar-benar supportif, menciptakan iklim investasi yang kundusif buat usaha, itu yang harus kita kolaborasikan,”tuturnya.

Disinggung masalah perkebunan sawit menjadi salah satu penyebab banjir di Kalimantan. Ketua Gapki membantah, menurutnya bahwa banjir itu terjadi dimana-mana bukan hanya di Kalimantan, tetapi juga ada di Garut Jawa Barat, Jakarta, NTT dan hampir ada diseluruh Indonesia.

BACA JUGA:  Totalitas Gubernur Kalsel Wujudkan Lumbung Padi Nasional

Joko menegaskan bahwa perkebunan Sawit bukan satu-satunya penyebab banjir banyak faktornya, apalagi di Kalimantan luas kawasan hutannya 56 juta Ha, sedang lahan perkebunan sawit hanya 10% dari total area hutan Kalimantan tersebut.

“Jadi hal tersebut merupakan teori yang keliru, atau bahasa orang yang tidak suka dengan bisnis ini dan masyarakat harus tahu fakta yang sebenarnya,”pungkasnya.

Editor : Eddy Dharmawan

Pos terkait