Wartaniaga.com,Banjarmasin-Bank Indonesia mencatat Pada triwulan ke III 2020 ekonomi Kalimantan Selatan (Kalsel) kembali terkontraksi sebesar 4.68% yoy lebih dalam dibandingkan dengan triwulan sebelumnya sebesar yang terkontraksi 2.63% yoy.
Perlambatan pertumbuhan ekonomi ini terutama didorong oleh kinerja investasi yang kian menurun terlihat dari nilai realisasi investasi yang cukup jauh dibanding dengan tahun sebelumnya.
“Adapun nilai realisasinya ditahun ini hanya 5,6 triliun rupiah jauh berbeda dengan nilai investasi tahun sebelumnya mencapai sebesar 11,1 Triliun rupiah,” ujar Annisa Elma Nabila, Asisten Analis Kelompok Perumusan KEKDA Wilayah & Provinsi KPw BI Kalsel saat wawancara dengan beberapa wartawan sebagai narasumber perkembangan perekonomian di Kalsel, Kamis (19/11).
Elma menambahkan, pelemahan tersebut disebabkan kinerja ekspor terutama untuk prioritas unggulan seperti batu bara dan CPO berkurang akibat tren penurunan harga berlanjut serta permintaan negara dari mitra dagang yang masih terbatas akibat pandemi covid-19 saat ini.
Secara kwartal pertumbuhan ekonomi Kalsel sudah tumbuh positif yaitu sebesar 3,26% (QtQ) meningkat dibanding triwulan sebelumnya yang mengalami kontraksi sebesar 0.04%(QtQ).
“Nah ini didorong oleh adanya perbaikan kinerja untuk komponen permintaan domestik dan perbaikan-perbaikan disisi lapangan usaha utama,” terang Elma.
Berdasarkan kajian Bank Indonesia ada 3 fokus utama yang mendorong tranformasi struktural perekonomian di Kalimantan Selatan, selain batu bara dan CPO. Pariwisata, UMKM dan Ekonomi Syariah ketiganya merupakan alternatif yang harus dikembangkan pada saat ini.
“Semua itu harus didukung oleh semua pihak , sehingga bersinergi secara bersama-sama untuk meningkatkan perekonomian di Kalimantan Selatan,” pungkasnya.
Reporter : Edi Dharmawan
Editor : Nirma Hafizah




















