2020 Diprediksi Menjadi Tahun Penentuan Ekonomi

  • Whatsapp
2020 Diprediksi Menjadi Tahun Penentuan Ekonomi

Wartaniaga.com, Jakarta – Sejumlah kalangan menyatakan tahun 2020 merupakan critical year atau tahun penentuan perekonomian Indonesia. Apabila fundamental ekonomi nasional memang benar-benar kuat, maka akan terhindar dari dampak perlambatan global. Sebaliknya, jika fondasi ekonomi RI sebenarnya rapuh atau rentan terhadap guncangan eksternal, dipastikan akan terdampak ancaman resesi dunia.

Hal ini dikemukakan oleh Pengamat Kebijakan Publik, Universitas Trisakti Jakarta, Profesor Trubus Rahardiansyah, bahkan ia memberi padangan kepada pemerintah agar sekarang jangan selalu menyalahkan faktor global. Akan tetapi, lebih baik melihat apa yang bisa dilakukan di dalam negeri.

Prideksi ekonomi di 2020

“Diprediksi tahun depan merupakan critical year karena menjadi penentu bagi perjalanan ekonomi Indonesia selanjutnya. kalau makro dan mikro ekonomi nyambung maka kecil kemungkinan akan terjadi krisis. prediksi cuma tumbuh empat persen. Di samping itu, bakal banyak korporasi yang gagal bayar utang,” jelasnya.

BACA JUGA:  Makan Berbuka Puasa yang Diwaspadai

Profesor Trubus mengatakan, apalagi saat ini jumlah perusahaan zombie yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) akan bertambah. Perusahaan zombie itu untuk membayar bunga saja tidak cukup dari pendapatan operasional.

Ia melanjutkan, sebelumnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2020 juga diprediksi di bawah lima persen atau hanya 4,8 persen, lebih rendah dari proyeksi pemerintah sebesar 5,3 persen. Hal itu disebabkan sejumlah tantangan dari internal maupun eksternal.

“Tantangan internal terutama persoalan defisit neraca transaksi berjalan, penurunan laju ekspor dan investasi serta peringkat kemudahan berusaha yang stagnan,” bebernya.

Sedangkan tantangan eksternal, menurut Profesor Trubus ditandai dengan penurunan pertumbuhan ekonomi bahkan menuju resesi global. Kemudian, perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok yang masih berkelanjutan dan minim kepastian.

BACA JUGA:  3 ASUMSI SUKSES YANG TERLARANG

Ia menilai, selama ini tim ekonomi pemerintah terkesan terbalik dalam mengatasi indikator makro yang negatif. Mulai dari masalah defisist transaksi berjalan, defisit perdagangan, hingga defisit keseimbangan primer, tidak ada upaya untuk membalikannya. Ini Karena tidak ada tindakan, terpaksa utang lagi dengan bunga yang lebih tinggi. Padahal banyak hal yang bisa dilakukan.

“Apabila perekonomian sedang dilanda kriris, maka seharusnya memompa daya beli supaya rakyatnya bisa belanja dan ekonominya pulih kembali. Sementara itu, porsi anggaran untuk belanja modal terus turun sejak 2016,” katanya.

Trubus prihatin pada 2019, porsi belanja modal dalam APBN turun menjadi 11,59 persen, sedangkan tahun sebelumnya mencapai 14,02 persen. Realisasi belanja modal pun belum mencapai target, sampai sekarang baru 63,11 persen. Realisasi belanja modal dibandingkan dengan 2018 juga mengalami penurunan 6,79 persen.

BACA JUGA:  Kenaikan UMP Berdampak Buruk Bagi Perekonomian Indonesia

Berdasarkan data tersebut, belanja untuk pembangunan yang digelontorkan pemerintah makin sedikit. Pemerintah dinilai terlalu banyak melakukan belanja barang dan pegawai. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan pemerintah dalam pembangunan semakin menurun. Proporsi belanja pemerintah perlu diarahkan pada peningkatan belanja modal, sehingga perlu ada upaya efisiensi belanja barang dan belanja pegawai.

“Ini juga akan menyebabkan makin meningkatnya pembayaran bunga utang pemerintah. Pada tahun ini, porsi bunga utang membengkak dari 16,41 persen jadi 16,88 persen terhadap APBN,” pungkasnya.

Editor : Muhammad Zahidi
Foto : Ist

Pos terkait