Pernah Jadi Kades, Awaludin Kembali Menyaksikan Pemilihan dari Sisi Berbeda Saat Terjun Memantau Pilkades Kotabaru

Wartaniaga.com, Kotabaru– Ada suasana berbeda yang dirasakan Wakil Ketua DPRD Kotabaru, Awaludin, saat menyaksikan langsung pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Serentak 2026, Senin (14/9).

Bukan sekadar melihat masyarakat datang ke tempat pemungutan suara dan mencoblos pilihannya. Bagi Awaludin, suasana Pilkades mengingatkannya pada masa ketika ia pernah berdiri di posisi yang sama.

Dulu, ia pernah menjadi Kepala Desa Sebatung. Kini, ia datang sebagai Wakil Ketua DPRD Kotabaru untuk melihat dari dekat bagaimana masyarakat menentukan pemimpin desanya.

“Saya pernah berada di posisi itu. Saya pernah merasakan bagaimana menjadi kepala desa dan berhadapan langsung dengan masyarakat,” kata Awaludin.

Hari itu, Awaludin bersama Ketua Perkumpulan Aparatur Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (PAPDESI) Kotabaru mendatangi tiga lokasi pelaksanaan Pilkades.

Dari satu lokasi ke lokasi lainnya, ia melihat warga datang dengan pilihan masing-masing. Ada yang datang dengan penuh harapan, ada pula yang mungkin membawa kecemasan karena nasib desanya akan ditentukan melalui suara yang diberikan hari itu.

Pilkades Serentak 2026 di Kabupaten Kotabaru sendiri diikuti 41 desa yang tersebar di 16 kecamatan.

Bagi Awaludin, setiap suara yang diberikan masyarakat bukan sekadar angka dalam perhitungan.

Di balik satu suara, ada harapan tentang jalan desa yang lebih baik, pelayanan yang lebih dekat, pembangunan yang lebih merata hingga kehidupan masyarakat yang lebih sejahtera.

“Bagi saya, pemilihan desa yang jujur dan adil adalah kekuatan untuk Kotabaru. Karena desa merupakan bagian penting dari pembangunan daerah,” ujarnya.

Ia mengaku memahami betul beratnya tanggung jawab seorang kepala desa.

Ketika menjabat sebagai Kepala Desa Sebatung, ia merasakan sendiri bagaimana seorang kepala desa harus berhadapan dengan berbagai persoalan masyarakat. Keluhan warga, kebutuhan pembangunan hingga persoalan sosial datang hampir setiap hari.

Tidak semua keinginan masyarakat bisa langsung diwujudkan. Namun, seorang kepala desa tetap dituntut untuk hadir dan mendengarkan.

“Itulah kenapa saya memahami bahwa kepala desa bukan hanya soal jabatan atau kewenangan. Ada tanggung jawab besar kepada masyarakat,” tuturnya.

Menurutnya, pengalaman tersebut membuat dirinya melihat Pilkades dari sudut pandang yang berbeda.

Di satu sisi ada calon yang berharap mendapatkan kepercayaan masyarakat. Disisi lain ada masyarakat yang berharap pemimpin terpilih benar-benar mampu membawa perubahan bagi desa mereka.

Karena itu, ia meminta seluruh tahapan Pilkades dijaga dengan baik. Jangan sampai pesta demokrasi di desa justru meninggalkan luka dan memutus hubungan persaudaraan antarwarga.

“Perbedaan pilihan itu biasa. Jangan sampai karena pilihan politik di desa, saudara menjadi tidak saling menyapa, tetangga menjadi bermusuhan,” katanya.

Awaludin juga mengapresiasi para panitia dan seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan Pilkades. Begitu pula masyarakat yang telah datang menggunakan hak pilihnya.

“Terima kasih kepada para pelaksana yang sudah bekerja dan kepada masyarakat yang sudah menggunakan hak pilihnya. Ini bagian dari proses demokrasi kita di tingkat desa,” ucapnya.

Menurutnya, kemenangan dalam Pilkades bukanlah akhir dari sebuah perjuangan. Justru setelah suara dihitung dan seorang calon dinyatakan terpilih, tanggung jawab yang sesungguhnya baru dimulai.

Kepala desa terpilih harus mampu melupakan sekat-sekat selama masa pemilihan. Tidak boleh hanya merangkul orang-orang yang memilihnya.

Sebab, setelah pemilihan selesai, seluruh masyarakat kembali menjadi tanggung jawab seorang kepala desa.

“Yang menang jangan euforia berlebihan. Yang belum terpilih juga harus menerima dengan baik. Setelah ini kita kembali bersama. Desa ini milik kita semua,” tegasnya.

Ia berharap siapapun yang terpilih nantinya tidak hanya menjadi kepala desa bagi mereka yang memberikan suara, tetapi menjadi kepala desa bagi seluruh masyarakat.

Sebab, pada akhirnya, jabatan akan berlalu. Suara kemenangan akan berhenti dihitung. Namun, hubungan antarwarga dan masa depan desa akan tetap berjalan.

“Siapapun yang terpilih, itulah yang harus kita dukung bersama untuk membangun desa. Jangan sampai karena perbedaan pilihan masyarakat menjadi terpecah,” pungkasnya.

Dengan 41 desa yang mengikuti Pilkades serentak di 16 kecamatan, Awaludin berharap proses demokrasi tersebut melahirkan pemimpin yang benar-benar mendapat kepercayaan masyarakat.

Reporter: Anaq.
Editor: Hariyadi

Pos terkait