Wartaniaga.com, Banjarmasin – Kementerian Keuangan Satu Kalimantan Selatan bersama Kanwil DJP Kalselteng kembali merilis perkembangan kinerja fiskal dan ekonomi daerah pada forum Assets Liabilities Committee (ALCo) yang digelar di Aula Kanwil Ditjen Perbendaharaan Kalsel, Selasa (25/11).
Acara bulanan ini dihadiri pimpinan unit Eselon I Kemenkeu Satu Kalsel, local expert, hingga insan pers untuk memaparkan kondisi ekonomi terkini di wilayah Kalsel.
Ekspor Turun, Neraca Perdagangan Tetap Surplus
Perekonomian Kalsel menunjukkan dinamika campuran. Hingga Oktober 2025, neraca perdagangan tetap surplus sebesar US$775,67 juta, meski mengalami kontraksi 29,67% dari bulan sebelumnya.
Penurunan terjadi seiring melemahnya ekspor yang tercatat US$877,65 juta (turun 31% yoy), sementara impor mencapai US$101,98 juta (turun 39,4% yoy).
Inflasi Melejit 3,11% (yoy)
Inflasi Kalsel berada di 3,11%, lebih tinggi dari nasional (2,86%). Secara bulanan, inflasi 0,36% didorong kenaikan harga emas perhiasan, ikan gabus, dan telur ayam.
Namun, deflasi pada komoditas cabai rawit, cabai merah, dan terong membantu meredam tekanan harga.
APBN Kalsel: Belanja Melambat, TKD Dominan
Realisasi belanja negara mencapai Rp32,29 triliun atau 78,45% dari pagu, dengan kontraksi ringan 1,14% (yoy).
Belanja Pemerintah Pusat turun 10,14%, sedangkan pertumbuhan TKD melambat menjadi 1,47%. Meski begitu, TKD masih mendominasi belanja dengan porsi hampir 80%.
APBD Kalsel Surplus Rp9,27 Triliun
Kinerja APBD mencatat surplus Rp9,27 triliun, sementara SiLPA mencapai Rp16,39 triliun.
Pendapatan daerah terealisasi Rp36,04 triliun (85,91% target) meski turun 6,01% yoy. Kabar baiknya, PAD tetap tumbuh 1,09%.
Penyerapan belanja daerah baru 52,61% atau Rp26,77 triliun, dengan kontraksi terdalam pada belanja modal yang anjlok 28,67%.
Penerimaan Pajak Terkoreksi 32,49%
Kanwil DJP Kalselteng melaporkan penerimaan pajak Kalsel baru mencapai Rp9,08 triliun (44,57%), turun 32,49% dibanding tahun lalu.
Rinciannya:
PPh Nonmigas: Rp5,85 triliun (turun 16,27%)
PBB: Rp296,23 miliar (turun 41,61%)
PPN: Rp2,28 triliun (turun 61,59% akibat lonjakan restitusi)
Pajak Lainnya: Rp645,21 miliar (tumbuh drastis 12.522,84%)
“Kontraksi penerimaan dipengaruhi restitusi yang meningkat serta tren negatif harga dan produksi batubara,” ujar Kepala Bidang Data dan Pengawasan Potensi Perpajakan, Sugiyarto.
DJP Ingatkan Modus Penipuan Coretax Palsu
Sugiyarto juga memperingatkan maraknya penipuan yang mengatasnamakan DJP, termasuk modus meminta wajib pajak mengunduh aplikasi “Coretax DJP”.
Ia menegaskan bahwa tidak ada aplikasi Coretax yang dapat diunduh. Sistem resmi hanya dapat diakses melalui situs coretaxdjp.pajak.go.id.
“Masyarakat diminta waspada terhadap tautan tidak resmi dan segera melapor bila menerima pesan mencurigakan,” tegasnya.
Editor : Eddy Dharmawan




















