Pengusaha Sapi Keluhkan Proses Pengiriman Sapi dari Luar Daerah

  • Whatsapp
L

Wartaniaga.com, Marabahan – Pengusaha sapi di Kalimantan Selatan ( Kalsel) mengeluh akibat sulitnya proses pengiriman sapi dari luar daerah. Akibatnya ketersediaan sapi sangat sedikit, apalagi dengan adanya penyakit mulut dan kuku di pulau Jawa.

Bisnis yang cukup menjanjikan ini dikeluhkan oleh para pedagang sapi dan juga peternak sapi, terlebih lagi beberapa tahun ini terjadi pandemi covid-19.

Seno pengusaha sapi Desa Danda Jaya

Biasanya menjelang hari Idul Adha penjualan bisa naik hingga ratusan persen, seperti di tahun-tahun sebelum tahun 2022. Hal ini dapat dilihat bukan hanya di Kabupaten Barito Kuala ( Batola) tetapi juga dikabupaten Tanah Laut, bahkan pengusaha di kota Banjarmasin.

Pada masa seperti ini, biasanya kandang para pedagang penuh dengan sapi, akan tetapi ditahun ini banyak berkurang sampai ada yang kosong akibat tidak adanya pengiriman dari luar Kalsel.

BACA JUGA:  Poktan. Karya Cipta Panen Jagung dari Benih Hibrida Twinn RK 58

Sariyudin salah satu pengusaha ternak sapi di Kecamatan Wanaraya, Batola mengatakan menjelang Idul Adha di kandangnya bisa tersedia sampai 100 ekor sapi tetapi saat ini hanya ada 3 ekor saja, itupun persediaan ini stok terdahulu.

“Sementara sulitnya pengiriman sapi dari luar Kalimantan Selatan terutama dari pulau Jawa akibat penyakit Kuku dan Mulut mengakibatkan tidak tersedianya Sapi di kandang kami,”ujarnya, Kamis (9/6) petang.

Sementara itu Seno, warga Desa Danda Jaya Rantau Badauh Batola mengatakan bahwa biasanya dimusim-musim menyambut hari raya korban ini, dia bisa menyediakan 500 ekor sapi dan itupun masih kurang karena banyaknya permintaan pesanan sapi.

Namun di tahun ini karena adanya penyakit Hand, foot, and mouth disease (HFMD) atau penyakit tangan kaki mulut yaitu penyakit yang disebabkan oleh virus dari genus Enterovirus pada sapi kata pemerintah pengiriman sapi pun harus melalui karantina.

BACA JUGA:  Kadin Dituntut Lebih Berperan Majukan Pembangunan Tanah Laut

“Ketika saya diundang oleh pihak Dinas peternakan provinsi seminggu yang lalu di Banjarbaru, bisanya masuknya sapi agak mudah kewilayah Kalimantan selatan, sementara ini sapi dari NTT yang bisa masuk, sedangkan sapi dari Bali, Madura, Sulawesi dan dari Bima menunggu petunjuk lebih lanjut,” kata Seno.

Meskipun demikian lajutnya, pemerintah mengisyaratkan agar sapi yang datang harus masuk karantina sama dengan manusia selama 14 hari, hal tersebut dilakukan agar sapi itu aman tidak membawa virus HFMD atau PMK.

“Ya berartikan sapi-sapi tersebut seperti terkena wabah Corona, jadi dengan waktu selama itu sangat menghambat untuk proses penjualan sapi-sapi kami,”ujarnya.

Akibatnya permasalahan tersebut dan sulitnya proses masuknya pengiriman harga sapipun naik secara drastis tidak terkendali bahkan sampai 30 persen dari harga penjualan sebelumnya.

BACA JUGA:  PT. Conch Diminta Buat Jalan Sendiri

“Seperti contoh daging sapi yang berat dagingnya 85kg sebelumnya kami jual dengan harga cuma14 juta rupiah, untuk tahun ini kami jual seharga 18 juta rupiah dan inipun sudah diorder orang untuk berkorban. Jadi omset penjualan sapi saya ditahun ini hilang 75 persen,” pungkasnya.

Editor : Eddy Dharmawan

L

Pos terkait