Sebagai contoh seperti besi baja pada saat masih boleh ekspor Nikel sekitar 3 sampai 4 tahun yang lalu penjualan berada sekitar 1.1 Milyar US $ tahun ini diperkirakan sudah melonjak diangka 20 Milyar US $. Itu karena pemberhentian ekspor Nikel mentah yang merupakan bahan campuran besi baja.
Hal tersebut akan memperbaiki neraca perdagangan, neraca pembayaran serta neraca transaksi berjalan akan lebih baik. Pada 2018 Neraca perdagangan kita masih depisit -18,41 Milyar US$ dan sekarang ini baru di bulan oktober kita sudah menjadi -1,5 Milyar US$.
“Pencapaian tersebut hanya 1 yang kita stop ekspor mentah yaitu Nikel, apalagi nanti hilirisasi Industri di negara kita, tentunya perekonomian Indonesia akan bertambah pesat bahkan surplus kenegara-negara lain,”tuturnya.
Indonesia terbuka dengan negara manapun, bagi yang ingin Nikel silakan datang bawa pabriknya ke Indonesia, bawa Industrinya ke Indonesia, bawa tehnologinya ke Indonesia sehingga selain nilainya bertambah tenagakerjapun meningkat.
“Potensi ekonomi hijau juga sangat banyak di Indonesia, oleh karena itu apabila kita garap dengan baik maka percepatan pertumbuhan ekonomi di Indonesia akan semakin membaik dan menjadi kekuatan ekonomi kita kedepan,”tutup mantan walikota Solo ini.
Editor : Edhy Dharmawan



















