Pedagang Pasar Malam Blauran Pilih ‘Kibarkan Bendera Putih’

  • Whatsapp

Wartaniaga.com, Banjarmasin – Satu per satu, pedagang di Pasar Malam Blauran harus menyerah dengan kondisi pasar yang semakin sepi pengunjung. Ada yang pindah lokasi ke tempat lain, banyak yang beralih profesi dan tak sedikit yang pensiun jualan lantaran kehabisan modal.

Jejeran lapak pedagang yang dulunya memadati pasar kawasan Jalan Brigjen Katamso dan Jalan Niaga ini tak sepadat dulu. Kini, jumlahnya jauh berkurang. Perputaran perekonomian tersendat, terlebih di saat pandemi, seakan perlahan mati.

Razi, misalnya, salah seorang pedagang yang memilih ‘mengibarkan bendera putih’ tanda menyerah, ketimbang melanjutkan berdagang di sana.

“Sudah 6 bulan ini saya tidak buka dagangan, padahal barang jualan masih ada dalam gerobak,” tutur Razi.

BACA JUGA:  FEsyar Bukukan Omset Rp 2,6 T

Pria paruh baya ini menceritakan, perubahan mulai ia rasakan sejak tahun 2015 – 2016. Dimana, suasana pasar sudah mulai sunyi, sampai-sampai omzet dagangannya turun jauh.

Hingga memasuki tahun 2020, omzetnya semakin turun drastis. Apalagi, di tengah kepungan pandemi Covid-19, omzet Razi yang berdagang kelontongan ini terjun bebas ke angka 90 persen.

“Puncaknya 2021 ini, sejak awal tahun tadi saya terpaksa berhenti dulu jualan. Pendapatan tidak jelas, namun pengeluaran selalu ada. Ingin cari untung malah buntung,” keluhnya.
Razi merinci, ketika jualan ia harus mengeluarkan biaya operasional, seperti jasa buruh tarik gerobak Rp 20 ribu per hari, biaya lampu Rp 5 ribu per hari, retribusi pasar Rp 2 ribu perhari,biaya keamanan Rp 5 ribu perminggu dan jasa penitipan gerobak Rp 50 ribu perbulan.

BACA JUGA:  Ini Beda Deposito dengan Saham, mana yang Menguntungkan?

“Jika dikalkulasikan, pengeluaran wajib dalam sehari tidak kurang dari Rp 35 ribu. Sementara, maksimal keuntungan saya waktu itu hanya Rp 15 ribu perhari. Otomatis, minus lah karena menggerus modal dan sudah pasti nombok,” ujar Razi, yang dulu gerobak jualannya tepat berada di depan eks Hotel Perdana.

Saat ini, lanjutnya, pedagang di Pasar Malam Blauran jumlahnya bisa dihitung dengan jari. “Dulu, jumlahnya mencapai 400an pedagang, sekarang paling-paling sisa 20an orang saja yang masih bertahan,” bebernya.

Padahal, tambahnya, pasar malam yang buka sejak sore hingga malam hari, dulunya merupakan ciri khas di ibu kota Kalimantan Selatan ini. Bahkan, pengunjungnya bukan hanya dari Banjarmasin saja, tapi juga dari luar kota.

BACA JUGA:  Puluhan Ribu Tenaga Kerja Terdampak Corona. Prof Handry : UU Cipta Kerja Salah Satu Solusinya

Razi mengiaskan, kondisi Pasar Blauran saat ini seperti hidup segan, tinggal menunggu mati. Jika tak ada upaya pemerintah setempat untuk menghidupkannya kembali, lambat laun pasar malam yang populer di era tahun 1970 hingga 1990an ini hanya akan tinggal nama saja.

“Konsistensi Pasar Blauran yang melegenda ini hendaknya jangan hilang begitu saja. Harus ada upaya dan solusi untuk kembali menghidupkan pasar tradisional di tengah gempuran ritel-ritel besar,” harapnya.

Reporter : Ahamd Syarif
Editor : Nirma Hafizah

L

Pos terkait