Jangan heran, rata rata Kantor pemerintah atau swasta H- 7 jelang hari raya, yang aktif masuk kerja tinggal anak buah dan satpam penjaga. Tak kuasa menerima tamu bermacam ragamnya.
Dari perseorangan maupun rombongan, dari berbagai profesi maupun yang mengaku ngaku profesional. Dari lembaga, tim sukses maupun yang setengah sukses.
Bagaimana THR begitu gegap tapi juga bikin megap megap ?
THR menurut mbah Google adalah Budaya atau kebiasaan memberikan tunjangan hari raya tidak semata-mata ada. Nyatanya, inisiasi THR ini sudah muncul sejak masa awal pasca kemerdekaan. Sejarah adanya tunjangan hari raya bagi pegawai ini dapat ditarik hingga masa pemerintahan presiden pertama Indonesia, yaitu Presiden Soekarno.
Menilik sejarah THR, sebenarnya buah gagasan dari Perdana Menteri sekaligus Menteri Dalam Negeri Indonesia ke-6, Soekiman Wirjosandjojo. Tokoh partai Masyumi ini pada mulanya hanya memberi THR spesial untuk menyejahterakan PNS.
Kebijakan pemerintah yang hanya berpihak kepada kalangan PNS menyulut protes besar-besaran dari kaum buruh. Apa yang di buat Soekiman dianggap ada udang di balik
Bakwan.
Langkah Soekiman dituding bukan hanya untuk menyejahterakan PNS dengan THR, melainkan juga ada unsur politis di baliknya. Banyak kalangan berpendapat pada masa itu Soekiman berkeinginan mengambil hati para PNS yang pada masa itu didominasi oleh kalangan ningrat sampai TNI.
Dan apa yang digagas Soekiman meski awalnya di protes kaum buruh . Terbukti meski masa itu gerakan kaum buruh dapat dihentikan lewat kekuasaan. Toh akhirnya berbuah manis asam Payau, karena dalam prakteknya sampai detik masa Presiden Jokowi saat ini rata- rata pekerja di Indonesia sudah mendapat bagian tunjangan setiap menjelang hari raya.



















