Kebijakan Relaksasi Kredit untuk Menjaga Stabilitas Perbankan di Tengah Pandemi

  • Whatsapp
Halisa Nur Refina ( Mahasiswi PKN STAN)

Namun, beberapa pihak lainnya menilai bahwa kebijakan restrukturisasi kredit ini merupakan solusi yang tepat dilakukan untuk perekonomian ditengah pandemi covid -19, dengan syarat  kebijakan tersebut harus dilakukan tepat sasaran sehingga tidak dimanfaatkan oleh debitur yang tidak bertanggung jawab. Apabila kebijakan ini dilakukan sesuai dengan aturan yang berlaku, maka akan memberikan keuntungan bagi perbankan dengan penilaian kualitas kredit lancar dan bank akan menjadi lebih efisien dikarenakan tidak perlu adanya penambahan pembiayaan cadangan. Sehingga tujuan dari dikeluarkannya POJK RI Nomor 11/POJK.03/2020 ini tidak membuat pihak perbankan merasa dirugikan. Kebijakan ini termasuk kebijakan yang sangat krusial bagi bank karena ancaman dari dampak pandemi covid-19 ini tidak hanya menggangu stabilitas perbankan, tetapi juga dapat mengguncang sistem perekonomian nasional secara menyeluruh.

BACA JUGA:  Menanya Ulang Keberpihakan Penegak Hukum Kepada Korban Kekerasan Seksual

Pemerintah tidak dapat langsung mengintervensi bank  karena itu bukan kewenangannya. Namun kebijakan pemerintah ini diserahkan pada OJK sebagai lembaga yang punya kewenangan untuk mengatur lembaga keuangan yang mana termasuk di dalamnya adalah bank serta adanya Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) yang juga diserahkan kepada masing-masing bank.

Kondisi ditengah pandemi covid-19 seperti ini dapat menimbulkan peningkatan resiko kredit macet. Sehingga perlunya pengelola resiko oleh bank untuk melakukan tindakan yang dapat meminimalisir potensi kerugian, oleh sebab itu berdasarkan peraturan OJK, bank dapat membuat kebijakan penetapan kualitas aset dan kebijakan restrukturisasi kredit atau pembiayaan. Dengan adanya restrukturisasi ini menunjukkan bahwa bank yang berfungsi sebagai pengelola kredit juga berfungsi sebagai intermediasi yang harus melakukan upaya untuk mengurangi dampak kerugian dari kredit bermasalah di tengah kondisi ini.

BACA JUGA:  Memaknai Peran Ibu Sebagai Pejuang Kesehatan Gizi Keluarga

Agar fundamental usaha sektor riil terjaga, sebaiknya lembaga keuangan melakukan penilaian kualitas kredit hanya berdasarkan ketepatan pembayaran pokok atau bunga untuk kredit sd 10 miliar, memberikan pembiayaan baru kepada debitur yang terkena dampak covid-19 dengan analisis pembiayaan yang memadai serta masyrakat dihimbau untuk tidak menggunakan debt collector saat ini.

Sedangkan untuk menjaga stabilitas pasar keuangan, OJK melarang short selling dalam waktu dekat kemudian memberlakukan asymetric auto rejection dengan batas dibawah 7%, meniadakan perdagangan di sesi pre-opening serta buy back saham tanpa melalui RUPS.

Namun pada tekniknya, relaksasi kredit ini juga diserahkan kepada bank karena bank merupakan sebuah usaha yang harus mengeluarkan biaya untuk menggaji karyawan dan sebagainya. Sehingga perlu di jaga agar bank juga tidak mengalami kesulitan karena apabila hal tersebut terjadi maka akan memberikan dampak buruk bagi kita semua.

Pos terkait