Sementara itu, salah satu pemerhati lingkungan, Ahmad Husaini yang juga kebetulan sedang menikmati akhir pekan bersama rombongannya di Kawasan Siring tersebut menyarankan agar para pemangku kepentingan setempat bisa segera turun tangan menangani permasalahan tersebut.
“Seharusnya Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten maupun Kota di Kalsel harus segera bertemu dalam satu meja untuk menangani ini,” tegasnya.
Pria yang pernah bekerja di Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi itu menerangkan bahwa keadaan seperti itu sama halnya dengan yang dialami oleh Provinsi DKI Jakarta. Pasalnya, sampah yang menyebabkan pampangan itu mayoritas berasal dari luar Banjarmasin.

“Seperti gelondongan kayu dan tumpukan bambu itu kan bukan dari Banjarmasin,” tandasnya.
Selain itu, seorang wisatawan lokal yang baru saja selesai mengunjungi Pulau Kembang, Hayati mengatakan ia sangat prihatin dengan kondisi sungai sekarang. “Banyak terjadi pampangan di aliran sungai utama di Banjarmasin, dan ini sangat mengganggu pemandangan,” ujarnya.
Wanita lulusan SMEA Banjarmasin itu mengaku masih bernasib untung, karena speed boat yang ia naiki bersama rombongan masih bisa melewati tumpukan sampah tersebut.
“Rencananya kami rombongan alumni SMEA ingin melakukan reuni di kawasan wisata Pulau Kembang sekaligus menikmati suasana susur sungai. Tapi sayang masih banyak pampangan dan bungkusan sampah yang dibuang dengan sengaja ke sungai oleh beberapa oknum masyarakat,” paparnya.
Ia berharap pihak terkait seperti pemerintah provinsi maupun pemerintah kota yang menangani permasalahan tersebut bisa segera menemukan solusinya.
“Itu semua demi kebaikan untuk kita juga. Kalau sungai ini bersih dan indah, wisata susur sungai yang dimiliki Kota Banjrmasin ini tidak kalah dengan provinsi lain,” pungkasnya.
Reporter/Foto : Fadlan Zakiri
Editor : Mukta




















