5 Istilah Urang Banjar yang Kerap Disebut Dalam Kehidupan Sehari-hari

  • Whatsapp
5 Istilah Urang Banjar yang Kerap Disebut Dalam Kehidupan Sehari-hari

Wartaniaga.com, Banjarmasin – Bagi sebagian orang yang paham dengan bahasa Banjar ketika mendengar istilah yang dilontarkan masyarakat Banjar sudah pasti dapat dimengerti dengan mudah, namun apa jadinya ketika istilah itu terdengar asing bagi para pelancong atau wisatawan luar.

Apalagi Banjarmasin merupakan salah satu kota yang mengandalkan PAD dari sektor Pariwisata, oleh karena itu bukan hal yang tabu jika beberapa pelancong atau wisatawan luar akan merasa asing bila mendengar istilah istilah bahasa Banjar, atau peribahasa Banjar yang kerap disebutkan masyarakat Banjar.

Berikut wartaniaga menyajikan beberapa istilah peribahasa yang kerap dilontarkan oleh masyarakat Banjar utamanya masyarakat yang berdiam di bantaran sungai. peribahasa pertama adalah istilah ‘Kada Takaji Habar’.

Istilah ini berasal dari kata kabar atau habar, sering kali melebihi kenyataan. Habarnya hebat, faktanya biasa saja. Heboh, viral dalam pemberitaan, setelah dilihat, biasa saja. Berita yang dilebih-lebihkan, lebay, dapat menyesatkan penerimanya.

Mengkonfirmasi, menguji kebenaran berita, melihat secara langsung, mencoba sendiri, mengalami langsung untuk membuktikan kebenarannya, itulah yang dimaksud kada takaji habar.

Istilah Urang Banjar yang Kerap Disebut Dalam Kehidupan

Peribahasa kedua yakni ‘Kadada Matinya’, maksudnya disini yaitu semua makhluk pasti mati. Tidak ada yang kekal abadi. Tapi kemudian ada peribahasa, kadada matinya. Hidup terus, tidak pernah mati. Orang lain mati, dia hidup. Orang lain kalah, dia menang. Selalu unggul, selalu terdepan, selalu hidup dalam situasi apapun.

Maksudnya disini adalah, Bukan mati dalam arti sebenarnya. Mati dalam pengertian kalah, menyerah, tidak berjaya. Ketika selalu berjaya, selalu menang, eksis, tidak terkalahkan, itulah yang disebut dengan kadada matinya. Apapun situasi dan kondisinya, selalu menang, unggul. Tidak pernah tersingkir.

BACA JUGA:  Problematika Kebijakan Dana Desa

Ada dua kemungkinan seseorang yang disebut kadada matinya. Pertama, memang hebat, sehingga selalu unggul pada situasi apapun. Kehebatannya, membuat mampu beradaptasi, menyesuaikan diri dengan berbagai keadaan dan selalu terdepan, hidup atau berjaya. Seorang yang multitalenta, banyak kemampuan, akan bisa seperti ini.

Kedua, karena licik, tega, purun, culas. Mau berbuat apapun, termasuk berbuat jahat. Asal menang, persetan nasib orang lain. Menghalalkan segala cara. Mengambil posisi bageteng, agar selalu untung.5 Istilah Urang Banjar yang Kerap Disebut Dalam Kehidupan Sehari-hari 2

Peribahasa ketiga yang kerap disebut masyarakat Banjar adalah ‘Laju Pada Trak’. Peribahasa ini maksudnya adalah karena alat transportasi darat waktu itu hanya ada gerobak sapi, maka gerobak sapi lah yang dianggap paling laju, paling kuat dan paling handal. Apa saja diangkut dengan gerobak sapi. Pindah rumahpun, menggunakan gerobak sapi.

Namun saat mobil dikenalkan dan mulai ramai masuk di tanah banjar, gerobak sapi ditinggalkan. Mobil terbanyak waktu itu truk (trak). Digunakan mengangkut rotan dan hasil hutan lainnnya. Sejumlah pengusaha rotan di Banjarmasin, Amuntai, Barabai, memiliki truk yang banyak sekali. Setiap hari hilir mudik mengangkut rotan, baik bahan baku, ataupun rotan yang sudah diolah.

Seringkali, mobil truk juga ditujukan untuk penumpang. Bak truk diberi atap dan kursi. Seperti mobil tentara mengangkut prajurit. Daya tampungnya banyak. Jalannya jauh lebih cepat, laju. Saat libur sekolah, para siswa berwisata menggunakan truk.

BACA JUGA:  Makan Berbuka Puasa yang Diwaspadai

Truk menjadi primadona dan mengalahkan gerobak sapi. Kala itulah paribasa ini lahir, laju pada truk. Karena kecepatan truk melampaui ratusan, bahkan ribuan kali kecepatan gerobak sapi. Tentu saja, karena gerobak hanya ditarik oleh sapi, truk digerakkan disel.

Secara harfiah, truk memang lebih laju dari transportasi apapun pada waktu itu. Namun ketika menjadi peribahasa, dikiaskan untuk menyidir apa saja, termasuk respon, sikap, tindakan, pada sesuatu yang dianggap menarik.

Saat disuruh makan, bila dia memang suka makan, maka tindakannya untuk segera makan sangat cepat, laju pada trak. Seorang yang rajin dalam bekerja, bila disuruh melakukan suatu pekerjaan, segera melakukannya dan cekatan, biasa dipuji dengan ungkapan laju pada trak.

Peribahasa ini lebih banyak digunakan untuk menyindir tindakan yang pamrih. Seorang yang hanya akan bekerja bila ada upahnya, ada maunya, atau akan mendapat keuntungan lebih. Bila untung, akan segera melakukannya, dan sangat cepat, lebih laju dari trak.

Sindiran yang ada pada peribahasa ini sangat halus. Tidak selalu bermakna negatif. Banyak pula yang positif, Misal, beberapa pemuda diminta mengantar anak gadis yang dianggap primadona, tidak usah pakai diupah atau diberi imbalan, akan banyak yang mau melakukannya. Artinya, bila ada maksud, ada hal yang dianggap menguntungkan, akan banyak yang menawarkan diri, laju pada trak.

Peribahasa ke empat, yakni ‘Batajak Las, dalam permainan kartu domino terakhir yang dipasang untuk menentukan menang atau kalah dalam permainan domino, dsebut dengan las. Mungkin berasal dari kata last, yang berarti terakhir. Serapan dari bahasa Inggris. Entah sejak kapan diserap? Benarkah diserap? Kenapa disebut las, tidak ada yang tahu.

BACA JUGA:  Omnibus Law, Alternatif “Penebus Dosa” Periode Sebelumnya?

Batajak berarti memasang atau menancapkan dengan kokoh. Batajak las, artinya menancapkan kartu terakhir untuk menyudahi permainan. Kartu tersebut dianggap pamungkas. Diharapkan menutup permainan dengan kemenangan.

Semula hanya istilah dalam permainan kartu domino, kemudian menjadi istilah yang dipakai setiap hari. Dipinjam untuk menggambarkan suatu fenomena. Kalau ada orang yang menancapkan pengaruhnya di suatu kelompok, disebut batajak las.

Tempat baru, komunitas baru, masing-masing tidak saling mengetahui. Secara alami akan ada orang-orang yang coba mencari pengaruh. Mengatur, mengambil inisiatif, melakukan berbagai hal, hingga mendominasi, orang tersebut dianggap mencoba batajak las.

terakhir yang kelima, ‘Tamakan Pandir’, istilah ini menjelaskan tentang hati-hati tamakan pandir, begitu biasanya nasehat disampaikan. Artinya, percaya pada ucapan yang belum tentu benar. Perkataan, ucapan, sebelum ditelan, dipercaya, mesti dikonfirmasi kebenarannya. Kalau langsung percaya, telan mentah-mentah, tanpa mampu menyaring mencernanya, itulah yang dimaksud tamakan pandir.

Sekalipun sudah dibicarakan banyak orang. Sudah viral. Tetap perlu mengkonfirmasi, mengklarifikasi, menguji kebenarannya. Kalaupun sudah yakin benar, simpan dulu sebagai informasi. Pikirkan, apakah perlu diteruskan atau tidak. Apa manfaatnya bila diteruskan?. Apa dampaknya?. Pikirkan betul-betul, sehingga orang lain tidak ikut tamakan pandir.

Sumber : Nurcholis Majid
Editor : Muhammad Zahidi
Foto : Ilustrasi

Pos terkait