Loading...
1.514 views

Kisah Pilu Masrahat, Wanita Berumur Pengepul Karang

Masrahat
Loading...

Wartaniaga.com, Pelaihari – Memegang sebilah pisau dan besi pencakut batu karang, wanita tua renta ini tampak tak kenal lelah memilah karang yang bisa dijadikan sebagai sarana bisnis untuk menopang kehidupannya sehari hari.

Sesekali tangannya yang sudah hampir tak berdaya itu harus memukul keras tumpukan kerang yang dilapis oleh sejenis batu agar lapisan tersebut hancur dan bisa dimanfaatkan karangnya, namun Masrahat pantang menyerah, nenek berusia 65 tahun itu terus semangat memukul satu batu karang ke batu karang lainnya.

Masrahat

Ditemui di pesisir pantai Takisung, awalnya nenek tersebut enggan menyebutkan namanya saat ditanya, namun setelah lama beramah tamah akhirnya suasana mulai mencair, ia mau menyebutkan namanya adalah Masrahat.

Masrahat Wanita Tua Renta Tak Kenal Lelah Memilah Kerang Demi Menopang Kehidupannya Sehari-hari

Diceritakannya kesehariannya adalah mencari kerang yang menempel dibatu – batu karang di pesisir pantai, dengan telaten Masrahat memecah kulit keras yang membungkus kerang – kerang tersebut menggunakan besi yang sudah dibentuk sedemikian rupa sehingga menyerupai pengait berujung tajam.

 

Masrahat yang merupakan warga asli pantai Takisung itu tinggal bersama sang suami Maskani ( 75 ) dan seorang anaknya yang berumur 20 tahun. Pekerjaan mencari kerang dilakoninya karena tidak ada pilihan lain, sementara sang suami sudah tidak dapat bekerja lagi, sang anak satu – satunya hanya bekerja sebagai buruh tangkap ikan dikapal milik nelayan sekitar dengan penghasilan yang tidak menentu.

BACA JUGA:  Kisah Kai Untung, Beli Mobil Pemadam Dari Hasil Jualan Bensin

“Bahkan kadang harus pulang dengan tangan hampa,” katanya ketika dihampiri wartaniaga Kamis (21/11).

Masrahat

Masrahat menyebut kerang – kerang yang dicarinya tersebut harus terkumpul sekitar 1 liter, baru bisa dijual seharga Rp15 ribu rupiah, pembelinya adalah penduduk sekitar pantai.

Loading...

” Kalau tidak sampai seliter ya buat dikonsumsi sendiri,” tutur Masrahat.

Ia menambahkan, mencari kerang tersebut hanya bisa dilakukan bila air laut sedang surut, bila air sudah mulai pasang maka bergegas dirinya naik ke bibir pantai dan mengakhiri pekerjaannya.

” Kadang dari pagi sampai sore dapatnya tidak sampai 1 liter,” tambahnya.

Masrahat menuturkan entah sampai kapan dirinya akan terus melakukan pekerjaan tersebut, yang jelas selama dirinya masih bisa berjalan dan tenaganya masih mampu untuk memecah kerasnya kulit kerang yang menempel dibatu karang dirinya akan tetap melakoni itu.

BACA JUGA:  Cerita Pasutri, Petani dari Gunung Ranggang

“Demi menghidupi keluarga kecil saya,” tutupnya.

Reporter : Tony Widodo
Editor : Muhammad Zahidi
Foto : Tony

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *