Wartaniaga.com, Banjarbaru – Kepala Puskesmas Sungai Ulin, drg. Rahmi Sri Nurhayati, memberikan klarifikasi terkait sorotan pelayanan Instalasi Gawat Darurat (IGD) setelah seorang pasien dalam kondisi kritis datang untuk mendapatkan pertolongan.
Klarifikasi tersebut disampaikan menyusul pemberitaan dan perhatian masyarakat terhadap pelayanan di Puskesmas Sungai Ulin. Mengutip Darahjuang.Online, Jumat (28/8), Rahmi menyampaikan permohonan maaf sekaligus mengapresiasi kritik dan masukan masyarakat sebagai bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas pelayanan.
“Saya drg. Rahmi Sri Nurhayati. Saya di sini kebetulan Kepala Puskesmas Sungai Ulin. Saya menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas kejadian kemarin,” ujar Rahmi.
Ia menegaskan, pihak Puskesmas Sungai Ulin berterima kasih atas perhatian masyarakat terhadap pelayanan kesehatan. Menurutnya, setiap kritik dan masukan akan menjadi bahan evaluasi agar pelayanan kepada masyarakat ke depan dapat semakin baik.
Petugas Sedang Berikan Pelayanan di Ruangan Lain
Rahmi kemudian menjelaskan kronologi saat pasien tiba di puskesmas. Menurutnya, sejumlah petugas yang bertugas di layanan UGD saat itu sedang mendapat panggilan untuk memberikan pelayanan di ruang Klaster Dewasa serta Klaster Anak dan Remaja.
Di waktu yang hampir bersamaan, sekitar pukul 10.00 WITA, juga berlangsung kegiatan peregangan di area loket pelayanan.
“Pada saat pasien datang, kebetulan memang pada saat itu pukul 10.00 sedang ada dilaksanakan peregangan yang ada di loket. Itu saja sih, yang lebih ke miskomunikasinya. Jadi sehingga mungkin ada yang mengira bahwa kami berjoget-joget di dalam,” jelasnya.
Pemeriksaan Awal Dilakukan di Dalam Kendaraan
Rahmi juga meluruskan mengenai pemeriksaan awal pasien yang dilakukan di dalam kendaraan.
Ia menjelaskan, tenaga kesehatan yang pertama kali datang ke lokasi merupakan perempuan. Kondisi tersebut membuat petugas mengalami kendala saat hendak memindahkan pasien ke dalam ruangan.
“Karena kebetulan nakesnya adalah perempuan, jadi sehingga kami tidak bisa mengangkat ke dalam. Minta bantuan kepada bapak sopirnya, belum mendapat respons. Sehingga supaya lebih cepat akhirnya teman-teman mengambil tensi dan pengukuran tanda-tanda vital itu langsung di pick-up,” ungkapnya.
Menurut Rahmi, pemeriksaan tanda-tanda vital dilakukan sebagai langkah awal untuk mengetahui kondisi pasien sebelum menentukan penanganan selanjutnya.
Pasien Direncanakan Dirujuk ke Rumah Sakit
Setelah pemeriksaan awal dilakukan, dokter kemudian menyarankan agar pasien segera mendapatkan rujukan ke rumah sakit yang memiliki dokter spesialis bedah saraf.
Namun, pihak keluarga pasien meminta agar rujukan dilakukan ke rumah sakit di Martapura. Pihak Puskesmas Sungai Ulin kemudian menindaklanjuti permintaan tersebut dengan mempertimbangkan kondisi pasien.
Rahmi menyebut, saat dilakukan pemeriksaan, pasien berada dalam kondisi koma. Dengan kondisi tersebut, pasien membutuhkan penanganan lebih lanjut di rumah sakit dan tidak dapat ditangani secara maksimal di tingkat puskesmas.
“Kalau hasil dari pengukuran dokter, itu memang sudah koma pasiennya. Sehingga tidak bisa dilaksanakan penanganan langsung di puskesmas, harus ke rumah sakit,” pungkasnya.
Puskesmas Sungai Ulin memastikan kejadian tersebut menjadi bahan evaluasi internal untuk memperbaiki koordinasi petugas dan meningkatkan kualitas pelayanan, khususnya dalam menghadapi pasien yang membutuhkan penanganan kegawatdaruratan.
Editor : Eddy Dharmawan



















