Rektor ITBA: Profesi Dosen Harus Kembali Menjadi Pilihan Generasi Muda

Rektor ITBA Dian Cipta Cendikia Bandar Lampung Dr HM Syaukani ST SH MCs MPd MKom (Foto : Ist)

Wartaniaga.com, Banjarmasin – Menurunnya minat generasi muda untuk menekuni profesi dosen dinilai menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian serius. Rektor ITBA Dian Cipta Cendikia Bandar Lampung, Dr. H. Muhammad Syaukani, ST., SH., M.Cs., M.Pd., M.Kom., menilai profesi dosen harus kembali ditempatkan sebagai profesi strategis dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia.

Menurut Syaukani, persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan besaran penghasilan, tetapi juga menyangkut bagaimana negara dan perguruan tinggi memberikan penghargaan terhadap peran dosen.

“Kita tidak mungkin berbicara mengenai Indonesia Emas 2045 apabila profesi dosen justru kehilangan daya tarik bagi talenta-talenta terbaik. Seluruh inovasi, riset, serta pengembangan sumber daya manusia bermula dari kualitas dosen yang dimiliki perguruan tinggi,” ujarnya, Kamis (25/6).

Ia mendukung penerapan sistem penghargaan berbasis kompetensi, produktivitas riset, inovasi, serta kontribusi kepada masyarakat. Menurutnya, meritokrasi merupakan instrumen penting untuk mendorong lahirnya perguruan tinggi yang mampu bersaing di tingkat global.

Namun demikian, ia menegaskan bahwa sistem tersebut hanya dapat berjalan secara optimal apabila kesejahteraan dosen terlebih dahulu terpenuhi.

“Kita tidak dapat menuntut dosen menghasilkan publikasi internasional, paten, inovasi, dan kolaborasi global apabila sebagian dari mereka masih harus berjuang memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya,” katanya.

Karena itu, ia mengusulkan dua kebijakan yang berjalan secara beriringan, yakni menjamin standar kesejahteraan minimum bagi seluruh dosen serta memberikan insentif yang kompetitif bagi dosen dengan kinerja unggul.

Selain aspek kesejahteraan, Syaukani juga menyoroti perlunya reformasi birokrasi akademik. Menurutnya, banyak dosen masih terbebani pekerjaan administratif yang menyita waktu sehingga mengurangi fokus terhadap pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, seperti penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan pembinaan mahasiswa.

Ia menilai transformasi digital di lingkungan perguruan tinggi perlu diarahkan untuk menyederhanakan proses administrasi agar dosen dapat lebih produktif dalam menghasilkan riset dan inovasi.

Lebih lanjut, Syaukani mengatakan pengembangan karier dosen juga harus menyesuaikan dengan tantangan zaman. Dosen, menurutnya, tidak lagi hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai peneliti, inovator, entrepreneur akademik, konsultan industri, dan mitra kolaborasi internasional.

“Dengan ekosistem seperti itu, profesi dosen akan kembali memiliki nilai ekonomi sekaligus prestise sosial yang tinggi,” ujarnya.

Ia menambahkan, investasi terbesar suatu bangsa bukan hanya membangun infrastruktur pendidikan, melainkan meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

“Menjadikan profesi dosen kembali menarik bukan sekadar kepentingan perguruan tinggi, tetapi merupakan investasi strategis bagi masa depan Indonesia. Kualitas generasi penerus sangat ditentukan oleh kualitas dosen yang mendidiknya,” pungkasnya.

Editor : Eddy Dharmawan

Pos terkait