Wartaniaga.com, Banjarmasin – Madu dikenal sebagai salah satu anugerah alam yang kaya manfaat. Berasal dari nektar bunga yang dikumpulkan lebah, madu diolah secara alami di dalam sarang hingga menghasilkan cairan manis yang sarat nutrisi dan kebaikan bagi tubuh.
Namun, tidak semua madu memiliki kualitas yang sama. Madu yang berasal langsung dari hutan atau alam liar diyakini memiliki khasiat lebih murni dibandingkan madu hasil ternak. Inilah yang menjadi dasar hadirnya Madu Warung Kaum, madu hutan asli Kalimantan yang dipasarkan tanpa rekayasa manusia.
Di balik usaha ini, ada kisah perjalanan inspiratif sang pemilik, Husni Naparin atau akrab disapa Parin. Ketertarikannya pada madu bermula saat ia menjalankan ibadah umrah bersama orang tuanya.
“Saat singgah di Turki dan menginap di hotel, biasanya disediakan madu. Tapi setelah saya minum, justru terasa sakit di gigi yang berlubang, bahkan sampai ke tengkuk,” ungkap Parin, Jumat (27/3).
Pengalaman serupa juga ia rasakan saat mencoba berbagai madu di Pulau Jawa, meski penjualnya meyakinkan keasliannya. Rasa nyeri tetap muncul, membuatnya mulai mempertanyakan kualitas madu yang beredar di pasaran.
Sepulang dari umrah, Parin mendapat informasi dari kerabatnya tentang madu hutan asli yang diambil langsung dari alam Kalimantan. Rasa penasaran membawanya menempuh perjalanan panjang menuju hutan di wilayah atas Kasongan, Kalimantan Tengah.
Perjalanan tersebut tidaklah mudah. Dari Banjarmasin, ia harus menempuh sekitar enam jam perjalanan darat, dilanjutkan dua jam perjalanan menggunakan perahu hingga tiba di lokasi sarang lebah liar.
Di sanalah, untuk pertama kalinya ia menyaksikan langsung proses pengambilan madu dari alam. Ia bahkan diminta langsung mencicipi madu segar dari sarangnya.
“Saya minum sekitar satu gelas kecil, kira-kira 50 ml. Ternyata tidak ada rasa sakit sama sekali, justru tubuh terasa lebih segar,” ceritanya.
Pengalaman itu menjadi titik balik. Parin pun memutuskan untuk memasarkan madu hutan alami tersebut dengan nama Madu Warung Kaum. Ia membeli madu langsung dari bawah pohon tempat sarang lebah berada, memastikan keaslian produk yang dijual.
Kini, selain dijual secara langsung di Warung Katupat Kaum di kawasan Bumi Pertiwi I Banjarmasin, madu tersebut juga dipasarkan melalui media sosial seperti Instagram dan TikTok. Parin bahkan rutin membagikan video proses pengambilan madu dari hutan untuk meningkatkan kepercayaan pelanggan.
Tak hanya itu, ia juga membuka kesempatan bagi pembeli yang ingin menyaksikan langsung proses panen madu, dengan syarat pembelian minimal tertentu dan biaya transportasi mandiri.
Parin juga membagikan tips sederhana dalam memilih madu asli. Menurutnya, madu alami cenderung memiliki warna yang lebih cerah, serta memiliki rekam jejak penjual yang jelas, termasuk transparansi proses pengambilan.
“Jangan asal beli madu. Pastikan benar-benar madu alami dari hutan, bukan hasil rekayasa atau ternak,” pesannya.
Sebagai dosen Fakultas Teknologi Informasi Universitas Sari Mulia sekaligus pelaku usaha, Parin berharap masyarakat semakin cerdas dalam memilih produk alami yang berkualitas.
Ia berharap Madu Warung Kaum bisa sukses dipasaran nasional bahkan internasional, sehingga produk madu hutan Kalimantan tidak kalah dengan produk dari negara lain.
Dari berbagai literatur kesehatan, madu hutan diketahui memiliki banyak manfaat, di antaranya sebagai antibakteri alami, sumber energi, membantu meredakan batuk, mempercepat penyembuhan luka, melembapkan kulit, serta kaya akan antioksidan.
Kisah Madu Warung Kaum bukan sekadar tentang bisnis, tetapi juga tentang perjalanan menemukan keaslian, menjaga kepercayaan, dan menghadirkan kebaikan alam langsung ke tangan masyarakat.
Editor : Eddy Dharmawan




















