Sampah, Sedekah, dan Masjid: Ikhtiar Kecil untuk Solusi Besar Umat

Buya Yamin , seorang politikus dan sekretaris dewan dakwah provinsi Kalsel (Foto : Ist)

Wartaniaga.com,Banjarmasin – Sampah sering kali dipandang sebagai sesuatu yang harus segera dibuang. Namun sesungguhnya, jika dikelola dengan niat dan cara yang tepat, sampah dapat menjadi jalan kebaikan, ladang amal, sekaligus solusi sosial dan lingkungan.

Pertama, membuang sampah pada tempatnya adalah kewajiban dasar. Akan lebih baik lagi jika sampah dipilah sejak dari rumah, minimal menjadi tiga kategori: sampah kering, sampah basah (organik), dan sampah B3 yang berbahaya.

Bagi seorang muslim, membuang sampah pun bisa diniatkan sebagai sedekah. Sampah yang kita buang kelak dipungut oleh pemulung, menjadi sumber penghidupan mereka.

Dengan niat yang baik, kita tidak hanya menjaga kebersihan, tetapi juga membantu sesama dan menghargai jerih payah mereka. Wallahu a‘lam bishawab.

Kedua, kebiasaan memilah sampah adalah kebiasaan baik yang kini semakin relevan. Kehadiran bank sampah yang dikelola secara profesional terbukti mampu mengubah sampah menjadi nilai ekonomi.

Jika tidak dikelola secara komersial, sampah pun bisa menjadi sarana sedekah, misalnya dikumpulkan melalui masjid, lalu hasilnya dimanfaatkan untuk kepentingan umat. Kedua pilihan ini sama-sama mulia, sama-sama bernilai ibadah.

Pada hakikatnya, ikhtiar kita satu: beramal saleh sambil menjaga lingkungan. Bahkan ketika sampah kering kita buang ke TPS menggunakan jasa pengangkut sampah, di sana tetap ada mata rantai kebaikan.

Petugas sampah mendapat pekerjaan untuk menafkahi keluarga, dan di TPS para pemulung tetap memiliki ruang untuk berusaha. Niatkan setiap aktivitas kecil itu sebagai sedekah, karena bisa jadi dari situlah sebuah keluarga bertahan hidup.

Lalu bagaimana dengan masjid yang kreatif membuka bank sampah? Tentu ini langkah baik dan patut diapresiasi. Masjid tidak hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga pusat edukasi umat dalam menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan.

Namun ada satu catatan pemikiran: kreativitas ini hendaknya tidak mematikan mata pencaharian pemulung.

Masjid justru bisa berperan sebagai penghubung. Sampah yang terkumpul dapat disedekahkan kepada para pemulung yang terdata, dengan pendekatan pembinaan.

Bahkan bisa disinergikan dengan kewajiban shalat Subuh berjamaah, sehingga para pemulung tidak hanya terbantu secara ekonomi, tetapi juga dikuatkan secara spiritual. Ini bukan sekadar program sosial, tetapi dakwah yang hidup dan membumi.

Alternatif lain adalah kombinasi pengelolaan profesional yang tetap berkeadilan. Masjid dapat fokus pada pengelolaan sampah tertentu, seperti minyak jelantah.

Setiap rumah tangga hampir pasti menghasilkan minyak jelantah. Jika dikelola dengan baik, nilainya cukup besar—sekitar Rp7.000 per kilogram. Masjid dapat mendata warga yang bersedia menyumbangkan minyak jelantahnya, lalu menjemputnya secara berkala. Dari sini tercipta lapangan kerja, baik bagi petugas penjemput maupun remaja masjid.

Lebih jauh lagi, pengelolaan minyak jelantah, biji plastik, atau kertas daur ulang dapat berkembang menjadi Amal Usaha Masjid (AUM). Masjid bukan merebut pekerjaan orang lain, tetapi justru menciptakan lapangan kerja baru, memperkuat ekonomi umat, dan memperluas manfaat keberadaannya.

Tulisan ini hanyalah sekadar pemikiran. Sebuah ajakan agar kita terbiasa berpikir untuk umat, memperbaiki cara kerja, sekaligus memperbaiki cara beribadah. Datang ke masjid bukan hanya membawa tubuh, tetapi juga membawa gagasan dan kepedulian.

Di mana pun posisi kita—di parlemen, eksekutif, yudikatif, swasta, pengurus masjid, atau masyarakat biasa—kepedulian adalah kunci. Jika umat mau berpikir dan bergerak bersama, Islam akan semakin cerah dan benar-benar menjadi pencerah bagi semesta.
Wallahu a‘lam bishawab.

Penulis : Buya  Yamin, Politikus, Sekretaris Dewan Dakwah Provinsi Kalsel, Anggota LHKP PWM Muhammadiyah Kalsel
Editor : Eddy Dharmawan

Pos terkait