Rojikin yang pernah menjabat sebagai Kepala Desa ini tidak pernah menyangka akan terjadi banjir seperti ini dan merendam hingga 200 pohon jeruk miliknya.
“ Kalau banjir sedalam ini belum pernah terjadi, paling hanya air pasang. Kalau seperti ini, dipastikan pohon jeruk akan mati semua dan panen akan gagal,” tuturnya.
Padahal, sambungnya untuk merawat dan membesarkan jeruk butuh waktu bertahun-tahun hingga bisa menghasilkan buah yang baik dan manis.
“ Kebun jeruk saya itu ditanam sejak 10 tahunan yang lalu, dirawat dan dikasih pupuk hingga menghasilkan buah yang banyak dan manis. Kalau terendm air dan mati, harus dari awal lagi menanamnya,” tutur Rojikin.
Baik Rojikin maupun Subarni berharap, pasca banjir pemerintah dapat membantu mereka agar bisa menanam jeruk kembali. Terlebih lagi, kecamatan Madastana sudah menjadi lumbung jeruk bagi kabupaten Batola.
Editor : Didin Ariyadi



















