Di Tekanan Geopolitik, IHSG Melemah Investor Bertambah

Kepala Perwakilan BEI Kalsel, Yuniar saat memaparkan kondisi pasar saham di Indonesia kepada sejumlah Wartawan di Banjarmasin pada Rabu (29/4).

Wartaniaga.com,Banjarmasin- Di tengah tekanan geopolitik yang makin memanas Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG) mengalami tekanan cukup berat hingga menyentuh harga terendah di tahun ini.

Bursa Efek Indonesia ( BEI) mencatat IHSG mengalami pelemahan sebesar 4,76% secara year-to-date (YTD) per 24 April 2026. Tak hanya itu, kondisi geopolitik juga membuat nilai tukar rupiah melemah sampai di angka Rp 17 ribu lebih per USD.

Meski demikian BEI merilis jumlah investor terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Sejak tahun 2020 hingga April 2026terus mengalami peningkatan hingga

Kepala Perwakilan BEI Kalimanatan Selatan, Yuniar mengaku bersyukur dengan terus meningkatnya jumlah investor ini.

” Kita tetap bersyukur di tengah ketidakpastian geopolitik sekarang investor di BEI mengalami peningkatan,” jelasnya kepada sejumlah wartawan di Banjarmasin, Rabu (29/4).

Menurutnya, minat investasi masyarakat tetap menunjukkan pertumbuhan yang sangat positif. Hingga bulan April 2026, jumlah investor telah menembus angka 26,12 juta, dengan total 957 perusahaan yang secara resmi tercatat di bursa saham.

” Kekuatan ini didominasi oleh investor di bawah usia 30 tahun, sebagai pondasi kokoh bagi pasar modal Indonesia dalam 5 hingga 10 tahun ke depan,” kata Yuniar.

Di sisi lain BEI juga melakukan inovasi dengan mengembangkan ETF Emas, dimana masyarakat dapat melakukan investasi emas di pasar modal Indonesia.

Program ini menjadi bagian baru dalam instrumen investasi di BEI. Diharapkan, ETF Emas menjadi salah satu solusi investor yang membutuhkan instrumen investasi berbasis emas.

Mengingat produk ini berbasis emas fisik yang teralokasi, secara otomatis memenuhi kriteria instrumen investasi Syariah dan telah mengantongi Fatwa DSN-MUI.

BEI mengintegrasikan produk ini dengan ekosistem bulion nasional, bekerja sama dengan lembaga seperti Pegadaian dan Bank Syariah Indonesia (BSI) sebagai penyedia dan penyimpan emas.

Mekanisme transaksinya sangat terjangkau, di mana 1 lot di pasar sekunder terdiri dari 100 unit penyertaan.

“Underlying aset penjaminan itu berupa emas fisik. Jadi ini produk yang sangat menarik, artinya kalau emas fisik otomatis secara Syariah pun ini adalah produk yang masuk kategori syariah,” papar Yuniar

Saat ini, sambungnya sudah terdapat lebih dari 10 Manajer Investasi (MI) yang bersiap untuk mengelola produk turunan ETF Emas tersebut.

Editor: Didin

Pos terkait