Monry mencontohkan beberapa wisata yang ada di Yogyakarta. “di Yogya itu, orang mandiin kerbau saja sudah jadi wisata, membajak sawah pun bisa jadi wisata, sentra pembuatan batik serta membuat kue khas daerah sana juga menjadi wisata. dan mereka pun bayar untuk kotor-kotoran seperti itu,” cetusnya.
Sebenarnya kalau dipikir-pikir, Monry melanjutkan. Buat apa mereka (wisatawan) membayar untuk memandikan kerbau yang bukan miliknya. Namun ada nilai tersendiri yang tidak bisa mereka dapatkan di kehidupannya.

Selain itu ekowisata di daerah Jawa Barat. Monry menuturkan wisatawan membayar hanya untuk diajarkan bagaimana cara memetik buah atau bunga dengan benar. “Padahal ditempat kita pun banyak hal-hal seperti itu, tapi beberapa masyarakat kita ada yang belum paham dengan potensi yang dimiliki daerahnya sendiri,” runutnya.
Baginya, Kota Banjarmasin ini kaya akan wisata berbasis budaya yang menjadi salah satu aspek penting untuk dijadikan pariwisata. Banyak wilayah Bajarmasin yang memiliki potensi untuk dijadikan wisata, seperti sentra produksi Tape ketan dan Bingka di sepanjang wilayah Kuin, sentra kerajinan topi purun di Alalak, dan lain-lain.
“Turis asing yang datang ke tempat kita itu mau melihat kekayaan budaya khas yang kita miliki. Makanya yang paling menonjol dari Banjarmasin ini adalah wisata susur sungainya, bukan jajaran gedung tinggi. dan kedatangan wisatawan itu pasti memberi pengaruh besar terhadap PAD di Banjarmasin,” paparnya.
Namun lelaki kelahiran tahun 1982 ini menyayangkan perilaku beberapa masyarakat kita yang tidak bisa melihat orang yang baru ditemuinya. Contohnya ada turis asing yang berjalan di Pasar Sudimampir tanpa Gaetnya dengan tujuan ingin melihat langsung suasana pasar yang tidak bisa didapatkan di negara asalanya. Pasti ada saja oknum yang ingin memanfaatkan hal tersebut.
“Entah untuk ditipu saat membeli sesuatu, atau mendapat perlakuan yang kurang enak lainnya,” kata Monry.
Namun, ia menegaskan sekali lagi. Itu hanya sebagian masyarakat saja. “Sebenarnya masyarakat Banjar ini dikenal sebagi maayarakat yang ramah dan periang, buktinya kalau kita berwisata ke pasar terapung Lok Baintan, ibu-ibu yang berjualan disana selalu menyambut kedatangan wisatawan dengan senyuman dan canda tawanya,” ungkapnya.
Ia berharap masyarakat Banjar bisa mempertahankan suasana nyaman yang dirasakan oleh wisatawan yang datang berkunjung. “Jangan sampai ada kasus yang bisa mempermalukan sektor wisata kita,” pungkasnya.
Reporter : Fadlan Zakiri
Editor : Muhammad Zahidi
Foto : Ist



















