Resesi Eropa Dikhawatirkan Berdampak Kepada Perekonomian Indonesia

Lelang Utang Negara Picu Fluktuatif Perekonomian Indonesia
Prof. Trubus Rahardiansyah saat bersama Rektor Universitas Negeri Semarang, Prof. Fathurohman

Wartaniaga.com, Jakarta – Pengamat Ekonom Global dari Universitas Trisakti Jakarta, Professor Trubus Rahardian sebut resesi atau kemerosotan ekonomi dapat meruntuhkan perekonomian sebuah negara. dalam catatannya sedikitnya ada 13 perbankan besar di Eropa dan negara barat lainnya, telah melakukan pemangkasan karyawan atau pemutusan hubungan kerja (PHK).

Professor Trubus khawatir kondisi tersebut berpotensi kepada perbankan Indonesia dan menimpa perekonomian negari seribu pulau, bukan tanpa alasan, ia mengukur hal itu dari masifnya perbankan besar yang melakukan PHK, karena gelombang PHK di dunia akibat lantaran dampak resesi yang terjadi saat ini sampai dengan 2021 mendatang.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

“Ini merupakan rangkaian peristwa resesi yang terjadi saat ini hingga tahun 2021 nanti,” kata Trubus kepada wartaniaga.com, Jumat (11/10).

Selain itu masih menurut Trubus, perlambatan ekonomi global, perang dagang antara Cina dan Amerika Serikat (AS) yang tidak kunjung reda, bahkan perang antara AS dengan Eropa. turut membuat kondisi perekonomian dunia secara umum semakin merosot.

“Demikian hal ini tidak menutup kemungkinan akan mengancam perekonomian Indonesia,” bebernya.

Ia berasumsi tingkat kelesuan ekonomi yang cukup tinggi diakibatkan resesi tersebut tidak hanya terjadi di Eropa ataupun negara barat lainnya. Bisa jadi Indonesia terdampak resesi ini.

“Saat ini, Indonesia telah merasakan dampak resesi pada sektor perbankan. Salah satunya, perlambatan penyaluran kredit pada beberapa bulan terakhir,” ucapnya.

Trubus menambahkan sebagaimana diketahui sepanjang tahun 2019 setidaknya ada 13 bank besar yang mengumumkan akan melakukan efisiensi karyawannya. Dari 13 bank tersebut sebagian besar merupakan bank dari Eropa.

“PHK karyawan terbanyak dilakukan di Eropa. Kemudian disusul Amerika Utara, Timur Tengah dan Afrika. Sisanya di Asia Pasifik. Pemangkasan karyawan dilakukan karena ekonomi Eropa tumbuh melambat dari tahun 2017-2018,” terangnya.

Lanjut Trubus, pada rentang tahun itu, ekonomi dunia tumbuh melambat sebesar 0,126 persentase poin, sementara ekonomi Eropa tumbuh lebih lambat lagi yakni hanya sebesar 0,49 persentase poin.

Akibatnya kata Trubus, Bank-bank Eropa mengalami penurunan pendapatan dan tingginya biaya yang menekan laba bank. Padahal, berbagai cara ditempuh seperti konsolidasi melalui merger, namun tidak semudah yang dibayangkan.

“Semua itu ada biaya dan risiko yang tidak kecil dan akhirnya PHK dipilih menjadi alternatif akhir,” pungkasnya.

Editor : Mukta

Pos terkait

banner 468x60