logo wartaniaga

Kisah H. Madi, Tukang Bubur Naik Haji

Wartaniaga.com, Banjarbaru – Memakai peci putih serta baju busana muslim menjadi daya tarik tersendiri bagi seorang laki-laki penjual bubur Banjar di Jalan Panglima Batur Banjarbaru.

Gerobak aluminium dan puluhan piring mangkok tersusun rapi pada kios yang diberi nama Bubur Banjar Inport, adalah H. Madi, pria yang beruntung bisa menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci Mekkah akibat dari jualan bubur Banjar itu.

Bisnis kuliner yang digelutinya sampai saat ini tersebut selain mampu membuat H. Madi bisa menunaikan Ibadah Haji ke Tanah Suci Mekkah, ia juga berhasil menjadikan dua anaknya mendapatkan gelar Magister di salah satu perguruan tinggi di Kalimantan Selatan.

“Alhamdulillah dari hasil menabung selama 15 tahun yang lalu, saya bisa berangkat ibadah haji ini, hal lainnya juga menyekolahkan anak sampai ke jenjang magister,” ujarnya kepada wartaniaga.com, Minggu (21/9).

BACA JUGA:  Rudiah, Pedagang Kue 6 Dekade Merajut Asa di Pasar Gambut

H.Madi mengakui, hal itu tidak dilaluinya dengan mudah, banyak jalan berliku-liku yang menerjal setiap langkahnya untuk menuju kesuksesan, bahkan 14 tahun silam dirinya sempat mencabang pekerjaan menjadi tukang kebun di salah satu Hotel di Banjarbaru.

“Tahun 2005 lalu sempat jadi tukang kebun di hotel ternama di Banjarbaru, selama tiga tahun saya ikut disana, penghasilannya ditabung untuk bisa mengembangkan bisnis bubur yang saya miliki,” ucapnya.

Ia menceritakan, awalnya menjadi tukang kebun akibat pengalaman pahit berupa persaingan bisnis kuliner bubur yang membuatnya harus memutar otak dalam mengembalikan modal yang menjadi sumber satu-satunya rezeki untuk 2 anak dan istrinya.

“Hingga saya harus menjual rombong agar bisa menyekolahkan anak-anak saya awalnya, kemudian menjadi tukang kebun agar bisa beli rombong lagi,” bebernya.

BACA JUGA:  Tata Aturan Investasi Negara Harus di Revisi

Adapun perjalanan dan kenangan pahit yang dijalaninya dulu dianggapnya sebagai motivasi dalam hidup agar tetap optimis dalam menjajakan bubur olahannya itu, alhasil sekarang pelanggannya sampai merambah ke Kalimantan Tengah.

“Alhamdulillah, kenangan pahit itu bisa saya jadikan pedoman dan penyemangat hidup saya supaya usaha ini tetap berjalan dan bukti menjawab ada pelanggan setia yang jauh dari Kalteng pun berkunjung ke Banjarbaru hanya untuk mencicipi bubur olahan saya,” ungkapnya.

Reporter : Riswan
Editor : Mukta
Reporter :Riswan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *