Kabut Asap Karhutla Ganggu Aktivitas, Pemkot Banjarbaru Ubah Jam Masuk Sekolah

Sekdako Sirajoni saat memberikan arahan pada rapat terpadu bersama unsur SKPD terkait (Foto : Ist)

Wartaniaga.com, Banjarbaru – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) mulai mengganggu aktivitas masyarakat di Kota Banjarbaru. Pemerintah Kota Banjarbaru pun mengambil sejumlah langkah antisipasi, termasuk mengubah jam masuk sekolah menjadi pukul 09.00 WITA.

Kebijakan tersebut dibahas dalam rapat di Ruang Tamu Utama Walikota Banjarbaru, Kamis (20/8), yang dipimpin Sekretaris Daerah Kota Banjarbaru, Sirajoni, atas arahan Walikota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby.

Jam pembelajaran yang sebelumnya dimulai pukul 07.30 WITA kini diundur menjadi pukul 09.00 WITA. Sementara waktu pulang menyesuaikan jenjang pendidikan masing-masing.

Kebijakan ini berlaku bagi siswa SD dan SMP, baik negeri maupun swasta, termasuk satuan pendidikan kesetaraan.

Selama kondisi kabut asap masih terjadi, sekolah juga diminta meniadakan seluruh aktivitas di luar ruangan. Para siswa diwajibkan menggunakan masker sebagai langkah perlindungan terhadap paparan asap.

Sirajoni menegaskan, dampak Karhutla tidak hanya berkaitan dengan aktivitas pendidikan, tetapi mulai merambah sektor transportasi, ekonomi hingga kondisi kesehatan masyarakat.

“Yang perlu kita antisipasi dari Karhutla ini bukan hanya kegiatan sekolah, tetapi juga dampaknya terhadap ekonomi, transportasi dan pendidikan,” ujarnya.

Untuk mengantisipasi gangguan dan menjaga keamanan lalu lintas, Dinas Perhubungan akan menyiagakan petugas di sejumlah jalur menuju sekolah yang terdampak kabut asap.

Waspadai Kekeringan dan Krisis Air Bersih

Selain kabut asap, Pemerintah Kota Banjarbaru juga mewaspadai dampak kekeringan yang diperkirakan masih berlangsung dalam beberapa bulan ke depan.

BPBD Kota Banjarbaru melalui unsur pemadam kebakaran disiapkan untuk membantu penyediaan air bersih bagi masyarakat yang terdampak kekeringan.

Di sektor kesehatan, peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) juga menjadi perhatian serius pemerintah.

Data Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru mencatat sebanyak 21.323 kasus ISPA secara kumulatif sejak Januari hingga Juli 2026. Pada Minggu Epidemiologi ke-29 tercatat 879 kasus, kemudian meningkat menjadi 1.099 kasus pada minggu berikutnya.

Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pemerintah meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan, terutama saat melakukan aktivitas di luar rumah.

Sirajoni mengimbau masyarakat untuk menggunakan masker dan mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila kondisi udara semakin memburuk.

“Kita akan menghadapi kondisi ini dalam dua sampai tiga bulan ke depan. Karena itu kita perlu mengantisipasi apa yang mungkin terjadi, termasuk dampak kekeringan dan Karhutla terhadap masyarakat,” pungkasnya.

Editor : Eddy Dharmawan

Pos terkait