Drama Kolosal Perjuangan Rakyat Kalsel Getarkan HUT RI ke-81, Robert Hendra: Kemerdekaan Adalah Harga Diri

Drama Kolosal Kisah perjuangan Rakyat Kalimantan Selatan pada acara HUT ke 81 RI di Kota Banjarbaru (Foto : Ist)

Wartaniaga.com, Banjarbaru – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia di Kota Banjarbaru tidak sekadar menjadi seremoni. Di balik pengibaran Sang Merah Putih dan rangkaian upacara, sebuah drama kolosal yang mengisahkan perjuangan rakyat Kalimantan Selatan dalam mempertahankan kemerdekaan sukses menghadirkan kembali semangat para pejuang di tengah masyarakat.

Penampilan tersebut menjadi salah satu bagian yang paling menyentuh dalam rangkaian peringatan HUT ke-81 RI yang digelar di halaman Kantor Walikota Banjarbaru, Senin (17/8).

Kisah perjuangan yang diperankan dalam drama kolosal itu mendapat apresiasi dari tokoh masyarakat Banjarbaru, Robert Hendra Sulu. Selain dikenal sebagai lawyer, Hendra juga merupakan seorang seniman yang menciptakan lagu “Banjarbaru Kota Idaman.”

Robert Hendra Sulu salah satu tokoh masyarakat, lawyer, seniman pencipta lagu Banjarbaru Kota Idaman (Foto : EDH)

Bagi Hendra, kemerdekaan bukan sekadar peristiwa yang diperingati setiap 17 Agustus. Kemerdekaan adalah hak yang harus terus dijaga dan diperjuangkan oleh seluruh rakyat Indonesia.

“Pertama, dirgahayu untuk negeriku yang ke-81. Perjalanan ini cukup panjang. Sebetulnya menurut pandangan saya, rasa hormat atas hak sesungguhnya itu adalah kemerdekaan. Sekali lagi, rasa hormat atas hak sesungguhnya itu kemerdekaan. Hingga kini kita sedang berjuang atas hak hidup,” ungkapnya kepada media ini seusai mengikuti rangkaian HUT ke-81 RI.

Sebagai seorang seniman, ia mengaku sangat tersentuh menyaksikan drama kolosal yang mengangkat sejarah perjuangan rakyat Kalimantan Selatan tersebut.

“Ini baru pertama kali saya terharu. Ternyata ada peristiwa sejarah yang banyak anak-anak kita belum tahu,” tuturnya.

Menurut Hendra, kisah perjuangan para pahlawan daerah seperti yang diangkat dalam drama tersebut harus lebih sering ditampilkan kepada masyarakat, khususnya generasi muda. Sejarah, menurutnya, bukan hanya rangkaian tanggal dan nama yang tercatat dalam buku, tetapi juga tentang pengorbanan, keberanian dan harga diri sebuah bangsa.

“Hal semacam ini tentunya harus sering dipertontonkan, terutama untuk generasi atau lintas generasi. Agar mereka tahu bahwa peristiwa tanggal 17 Mei itu bukan sekadar persoalan sejarah, tetapi mempertaruhkan harga diri negeri ini, khususnya di daerah Kalimantan Selatan,” tegasnya.

Ia menilai, memasuki usia kemerdekaan yang ke-81, Indonesia menghadapi tantangan yang tidak kalah besar dibanding masa perjuangan dahulu. Jika para pahlawan berjuang dengan senjata untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan, maka generasi hari ini memiliki tugas untuk mengisi kemerdekaan dengan pengabdian dan menjaga kedaulatan bangsa.

“Di usia ke-81 ini merupakan tantangan sekaligus harapan bahwa kita senantiasa harus berjuang,” katanya.

Hendra menegaskan, menjaga Indonesia bukan hanya menjadi tanggung jawab seorang pemimpin. Kemajuan dan kedaulatan bangsa merupakan tanggung jawab seluruh rakyat, tanpa terkecuali.

“Negeri ini ada bukan hanya dipimpin oleh seorang presiden saja, tetapi rakyat atau siapapun yang ada di negeri ini punya kewajiban untuk memberi kekuatan agar Indonesia berdaulat, adil dan makmur,” tandasnya.

Drama kolosal itu pun seakan menjadi pesan kuat di penghujung peringatan HUT ke-81 RI di Banjarbaru: bahwa kemerdekaan yang dinikmati hari ini lahir dari pengorbanan panjang para pendahulu, dan menjadi tugas generasi sekarang untuk menjaga nyala perjuangan tersebut agar tidak pernah padam.

Editor : Eddy Dharmawan

Pos terkait