Profesi Dosen Kian Ditinggalkan? Wakil Rektor UNUKASE Sebut Mengajar Kini Lebih Banyak Pengabdian

Dr Murjani Wakil Rektor III Bid. Kemahasiswaan dan Kerjasama saat berada di depan kampus UNUKASE (Foto : Ist)

Wartaniaga.com, Banjarmasin – Wacana mengenai menurunnya minat terhadap profesi dosen di Indonesia mendapat perhatian dari Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama Universitas Nahdlatul Ulama Kalimantan Selatan (UNUKASE), Dr. Ir. Murjani, S.P., S.I.Kom., M.S., IPM.

Menurut Murjani, profesi dosen saat ini, khususnya di lingkungan perguruan tinggi swasta (PTS), lebih tepat disebut sebagai profesi pengabdian dibandingkan sebagai sandaran utama untuk memenuhi kebutuhan hidup.

“Profesi dosen, terutama di PTS, saat ini merupakan bentuk pengabdian yang murni. Harapan imbalan terbesarnya adalah pahala dari Allah SWT,” ujar Murjani, Kamis (25/6).

Ia menilai kondisi kesejahteraan sebagian dosen swasta masih menjadi tantangan yang harus mendapat perhatian berbagai pihak. Bahkan, dalam istilah yang akrab di masyarakat Banjar, ia menyebut profesi dosen saat ini sulit dijadikan mata pencaharian utama.

“Kalau bahasa Banjarnya, kada kawa dijadikan mata pencaharian. Artinya, belum bisa sepenuhnya menjadi sandaran ekonomi bagi kehidupan sehari-hari dosen dan keluarganya,” katanya.

Meski demikian, Murjani mengapresiasi para dosen yang tetap bertahan menjalankan tugasnya di tengah berbagai keterbatasan. Menurutnya, kecintaan terhadap dunia pendidikan menjadi alasan utama banyak dosen masih memilih mengabdi.

“Kalau masih ada yang bertahan hingga sekarang, itu karena kecintaan yang luar biasa terhadap pendidikan dan keinginan untuk terus mencerdaskan generasi bangsa,” tegasnya.

Ia mengungkapkan, untuk memenuhi kebutuhan hidup, tidak sedikit dosen yang harus menjalankan berbagai pekerjaan atau usaha sampingan di luar aktivitas akademik. Namun, hal tersebut dilakukan tanpa mengabaikan tanggung jawab sebagai pendidik.

“Berbagai cara kami lakukan selama halal. Kami tidak pernah malu bekerja apa saja, asalkan proses pendidikan di kampus tetap berjalan sesuai aturan yang berlaku dan keluarga tetap bisa dinafkahi dengan layak,” ungkap Murjani.

Menurutnya, tantangan terbesar yang dihadapi dosen saat ini adalah menjaga keseimbangan antara pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi—pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat—dengan tanggung jawab terhadap keluarga.

“Berbagai tugas Tri Dharma harus dijalankan, sementara keluarga juga harus tetap diperhatikan. Keduanya harus berjalan seimbang,” pungkasnya.

Pernyataan tersebut menjadi gambaran bahwa di tengah berbagai tuntutan akademik yang semakin kompleks, profesi dosen masih bertumpu pada semangat pengabdian. Namun, peningkatan kesejahteraan tenaga pendidik dinilai tetap menjadi pekerjaan rumah penting bagi dunia pendidikan tinggi di Indonesia.

Editor : Eddy Dharmawan

Pos terkait