Belajar dari Rorotan, Banjarbaru Siapkan Revolusi Pengelolaan Sampah dari Sumbernya

Walikota Hj Lisa Halaby bersama rombongan saat menyaksikan pengelolaan sampah di Kel. Rorotan Jakarta Utara (Foto : MCBjB)

Wartaniaga.com, Jakarta – Keseriusan Pemerintah Kota Banjarbaru dalam membenahi persoalan sampah kian nyata. Melalui studi tiru di Kelurahan Rorotan, Jakarta Utara, Pemkot Banjarbaru mulai merancang arah baru pengelolaan sampah yang dimulai dari sumbernya, yakni rumah tangga.

Pada hari kedua kunjungan, Sabtu (4/4), rombongan yang dipimpin Walikota Banjarbaru, Hj Erna Lisa Halaby, menelusuri berbagai model pengelolaan sampah modern yang telah diterapkan secara terintegrasi di kawasan padat penduduk.

Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk menyerap praktik terbaik dalam sistem pemilahan dan pengolahan sampah.

Kunjungan diawali di Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Utara, di mana rombongan mendapatkan pemaparan terkait roadmap pengelolaan sampah yang dimulai dari tingkat rumah tangga hingga pengolahan akhir yang bernilai ekonomi.

Dari sini ditegaskan bahwa kunci keberhasilan tidak hanya terletak pada teknologi, tetapi juga pada perubahan perilaku masyarakat dalam memilah sampah.

Selanjutnya, rombongan mengunjungi Pusat Edukasi KIE RBU (Recycle Business Unit) yang mengintegrasikan edukasi lingkungan dengan pengolahan sampah daur ulang.

Para camat dan lurah se-Kota Banjarbaru diperlihatkan bagaimana sampah dapat menjadi sumber nilai ekonomi sekaligus media edukasi bagi masyarakat.

Pembelajaran berlanjut di kawasan ProKlim RW 01 Tugu Utara, yang menampilkan inovasi pengelolaan sampah berbasis komunitas.

Di lokasi ini, rombongan mempelajari teknologi sederhana namun efektif seperti budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF), pembuatan pellet dari sampah organik, hingga sistem drop point bambu untuk fermentasi sampah.

Puncak kunjungan dilakukan di RDF Plant Rorotan, fasilitas modern yang mampu mengolah hingga 2.500 ton sampah per hari menjadi bahan bakar alternatif Refuse Derived Fuel (RDF).

Teknologi ini mengubah sampah non-organik melalui proses pemilahan, pencacahan, dan pengeringan menjadi bahan bakar dengan nilai kalor setara batu bara muda.

Walikota Lisa menegaskan bahwa pengalaman ini akan menjadi bekal penting dalam merumuskan kebijakan pengelolaan sampah di daerahnya.

“Tentunya ini menjadi pengalaman dan wawasan berharga. Harapannya bisa segera kita implementasikan di Banjarbaru dengan menyesuaikan karakteristik wilayah dan terus berinovasi,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa perubahan harus dimulai dari masyarakat melalui kebiasaan memilah sampah sejak dari rumah.

“Ini harus kita dorong bersama. Tidak bisa individu saja, tetapi perlu dukungan lurah dan camat untuk memberdayakan masyarakat,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Banjarbaru, Shanty Eka Septiani, mengungkapkan pihaknya akan segera menyusun strategi konkret berbasis kelurahan.

Setiap wilayah lanjutnya, akan memetakan jumlah penduduk serta potensi sampah, dengan target peningkatan jumlah rumah tangga yang melakukan pemilahan setiap bulan.

Menurutnya, pola lama kumpul-angkut-buang masih menjadi tantangan utama yang harus diubah. “Ke depan, sampah tidak lagi sekadar dibuang, tetapi harus diselesaikan dari sumbernya,” jelasnya.

Rangkaian kunjungan ditutup di RPTRA Rorotan Indah I dan TPS 3R Rorotan, yang menampilkan praktik pengelolaan sampah berbasis masyarakat.

Fasilitas ini terbukti mampu mengurangi volume sampah secara signifikan melalui kolaborasi aktif antara pemerintah dan warga.

Melalui studi tiru ini, Pemkot Banjarbaru tidak hanya membawa pulang catatan teknis, tetapi juga semangat baru untuk membangun sistem pengelolaan sampah yang modern, berkelanjutan, dan berbasis partisipasi masyarakat.

Transformasi ini diharapkan menjadi titik awal perubahan besar, di mana pengelolaan sampah tidak lagi berakhir di tempat pembuangan, melainkan dimulai dari kesadaran warga sejak dari rumah.

Editor : Eddy Dharmawan

Pos terkait