Wartaniaga.com, Banjarmasin – Lebih dari 100 hari Dr. Muhammad Effendy berpulang. Namun dalam suasana dialog Forum Ambin Demokrasi, sosoknya terasa masih hadir, mengalir dalam ide, kritik, dan kegelisahan yang dulu kerap ia gaungkan.
Hal itu disampaikan Noorhalis Majid saat memoderatori dialog bertajuk “Mengenang Dr. Muhammad Effendy; Membangun Intelektual Organik dan Keberlanjutan Antar Generasi” di Rumah Alam Sungai Andai, Minggu (15/2).
Forum tersebut, menurutnya, merupakan gagasan Effendy. Ia merasa atmosfer kampus kerap kurang leluasa untuk menggulirkan ide-ide kritis menjawab persoalan demokrasi, hukum, dan pemerintahan.
Hadir sebagai narasumber Setia Budhi (Akademisi FISIP ULM), Erich Kaunang (Prodi Inter-Religious Studies Sekolah Pascasarjana UGM), dan Calvin Nathan Wijaya (peneliti sosial, alumni UI dan University of Melbourne). Sejumlah akademisi, tokoh, dan mahasiswa turut meramaikan diskusi.
Setia Budhi mengenang Effendy sebagai figur yang sejak 1990-an aktif di berbagai forum diskusi. Meski tak terjun ke politik praktis, ia selalu menjadi rujukan utama dalam isu demokrasi, pemerintahan, dan hukum tata negara. “Ilmunya tidak berhenti di ruang kuliah, tetapi hidup di tengah masyarakat,” ujarnya.
Erich Kaunang mengaitkan kiprah Effendy dengan konsep intelektual organik dari Antonio Gramsci, yakni pemikir yang lahir dan tumbuh bersama kelompok sosial tertentu, membangun kesadaran kritis dan mendorong perubahan.
Berbeda dari intelektual tradisional yang cenderung netral, intelektual organik hadir dan terlibat. “Effendy menjalankan itu lewat pikiran, ucapan, dan tulisannya,” katanya.
Sementara Calvin Nathan Wijaya berbagi pengalaman mendampingi kelompok marjinal, pemulung, manusia silver, hingga korban bencana ekologi.
Ia menyadari, pengetahuan akademik sering kali berjarak dengan realitas lapangan. “Intelektual organik adalah mereka yang mau mendengar, bukan sekadar berbicara,” tegasnya.
Dr. Fahriannor menilai Effendy tak hanya mengajar, tetapi menjadi bagian dari dinamika sosial di Kalimantan Selatan.
Ketika idealisme kampus kerap terhambat birokrasi, Effendy membangun ruang-ruang dialog di luar kampus agar gagasan tetap hidup dan bebas.
Pandangan berbeda disampaikan Berry Nahdian Furqon. Menurutnya, Effendy bukan intelektual organik dalam arti berada di garis depan perjuangan massa.
Ia lebih tepat disebut sebagai jembatan antara warga tertindas dan pengambil kebijakan, memberikan kritik, koreksi, dan masukan berbasis ilmu pengetahuan.
IBG Dharma Putra menambahkan, intelektual organik adalah mereka yang mengabdikan ilmunya untuk kemaslahatan publik, melampaui kepentingan pribadi atau kelompok.
“Effendy melakukan itu dengan sangat baik. Sulit mencari akademisi seperti beliau,” ucapnya.
Di era 5.0 yang dibanjiri algoritma dan arus informasi tak selalu benar, Ikhsan el Haq mengingatkan pentingnya peran intelektual yang kritis dan strategis agar perubahan dapat disikapi secara bijak.
Winardi Setiono, sahabat dekat Effendy, mengenang kegelisahan almarhum terhadap berbagai kebijakan yang dinilai tidak berpihak pada rakyat.
“Beliau tidak pernah diam. Selalu ada dorongan untuk bergerak dan menghadirkan perubahan,” tuturnya.
Effendy mungkin telah tiada. Namun semangat intelektual organik yang ia tanamkan, kritis, terlibat, dan berpihak pada kemaslahatan umum, terus hidup, menyala di ruang-ruang diskusi dan dalam kesadaran generasi berikutnya.(nm)
Editor : Eddy Dharmawan




















