Disabilitas Setara Bersama Pertadaya

Oerip, Rusli, Lisa, Muliana dan beberapa anggota Gerkatin kota Banjarmasin

Dari jasa ini, Lisa bisa mengantongi Rp 50 ribu hingga Rp 70 ribu sehari. “ Saya kerjakan sendiri, belum bisa cari karyawan. Terlebih lagi saat pandemi sekarang pelanggan masih sepi,” tuturnya.

Penerima bantuan lainnya, Humaidi dan Muliana memiliki pengalaman lain. Pasangan suami istri tuna rungu ini melakoni usaha sebagai tukang tambal ban dan jualan jus buah.

Meski hanya sang suami yang mendapat bantuan berupa sebuah kompresor, namun bagi mereka ini sudah cukup membantu perekonomiannya.

Mengandalkan 2 usaha tersebut,   Humaidi dan Muliana mampu hidup layak dan setara dengan masyarakat pada umumnya. Setidaknya sampai detik ini mereka mampu menyekolahkan ketiga buah hati.

“ Anak kami 3 orang, dua laki-laki dan satu perempuan, yang pertama kelas 3 SMA, ke dua kelas 6 SD dan terakhir perempuan kelas 1 SD,” ucap Muliana.

Membuka usahanya di kawasan Jalan Soetoyo. S, Teluk Dalam, pasangan suami istri mengaku tak pernah mengeluh dengan keterbatasan fisiknya. Bahkan demi membuktikan kepada masyarakat jika mereka mampu memenuhi kehidupan ekonomi keluarganya tak jarang sang suami menyambi sebagai penjaga parkir.

Humaidi saat berada di usaha bengkel tambal ban miliknya

“ Saya jualan jus buah di depan rumah, suami buka bengkel dan tambal ban di pinggir jalan Soetoyo. S. Tambal ban buka pukul 08:00 wita sampai kira-kira pukul 14 :00 wita, setelah itu suami saya istirahat karena malam biasanya ia jaga parkir,” paparnya.

Menurutnya rezeki yang mereka dapatkan dari usahanya itu sudah cukup untuk menghidupi keluarganya, tanpa harus menadahkan tangan mengharap bantuan orang lain. “ Alhamdulillah kami bisa mandiri,” tutupnya.

Baik Oerip, Rusli, Lisa dan pasangan suami istri  Humaidi dan Muliana serta anggota Gerkatin lainnya mengaku program Pertadaya Pertamina mampu membantu meningkatkan perekonomian mereka. Bagi Oerip, apa yang mereka lakukan ini sebuah bukti disabilitas juga memiliki kemampuan dan kemandirian layaknya masyarakat umum. “ Beri kami kesempatan, jangan beri kami belas kasihan. Melalui program ini,  bukti kami mampu, kami bisa dan kami setara,” tutup Oerip yang juga Ketua Komdali (Komunitas Sepeda Tuli) Banjarmasin ini.

Penulis : Didin Ariyadi

Pos terkait