Kisruh di Balik Kenaikan Tarif Bandara Soekarno – Hatta Masih Diselidiki

  • Whatsapp

Wartaniaga.com, Jakarta – Sampai kini belum jelas akar masalah mengapa terjadi berbagai kenaikan tarif di lingkungan Soekarno Hatta yang berada di bawah naungan PT (Persero) Angkasa Pura (AP) 2. Untuk memperjelas soal ini Kantor Menko Maritim dan Investasi, Kementerian Perhubungan dan Kantor Meneg BUMN masing-masing akan mengirim tim untuk memperjelas apa persoalan yang sebenarnya terjadi.

Pengurus Assosiasi Logistik dan Forwaders Indonesia (ALFI ) cabang Jakarta, medio Juni telah berkirim surat ke Kementerian Perhubungan menolak kenaikan tarif yang dikenakan kepada mereka oleh para pengelola gudang di terminal Soekarno-Hatta. Tapi sampai saat ini mereka mengaku surat tersebut belum mendapat tanggapan dari Kementerian Perhubungan.

BACA JUGA:  JMSI Serahkan Berkas Pendaftaran Tahap Awal Sebagai Persyaratan Calon Konstituen Dewan Pers

Sedang para pengelola gudang mengaku sebenarnya sampai saat ini mereka belum pernah melakukan kenaikan tarif, melainkan hanya menambahkan surcharge rata-rata sekitar 4OOan rupiah per kilo. Hal itu mereka lakukan sebagai dampak ada pengenaan biaya baru dari AP2 yang dinamakan renewal fee tiap per m2.

Para pihak pengelola gudang menerangkan, kenaikan biaya dari AP2 mencakup dua kompenen, yaitu pertama revenue share, dan kedua perhitungan MOB (minimun omzet broto) menjadi rata-rata 6OOan rupiah tiap meter persegi. Akibat kenaikan ini, dalam perhitungan para pengelola gudang mengakibatkan pembayaran yang harus ditanggung penyewa gudang atau operator ke AP2 dari komponen ini saja melonjak menjadi naik 300%. Itulah sebabnya untuk mempertahankan dari defisit operasional, dan tidak tekor terus menerus, para pengelola gudang di kawasan Soeharto – Hatta mengaku mengenakan penyesuaian tarif itu kepada para pengusaha Cargo dan forwaders. Jika langkah itu tidak mereka lakukan, mereka mengaku kemungkinan bakal gulung tikar.

BACA JUGA:  Vaksinasi Disabilitas IKA Unpad - Hippindo Dongkrak Capaian Vaksin Jabar

Tetapi para operator juga menghadapi dilema. Apabila tarif terus dinaikan maka volume cargo udara dipastikan bakal terjun bebas turun karena beralih ke moda transpotasi darat yang lebih murah.

Ketua Umum ALFI, Adil Karim, mengungkapkan, assosiasinya memang menerima pemberithuan adanya kenaikan tarif logistik dan pos internasional rata-rata 25%.

“Selain adanya kenaikan tersebut, sejak Mei 2021 ada komponen tarif baru, yaitu Airport Surcharge sebesar Rp 450/kg,” tandas Adil.

Sebaliknya pihak AP2 bersikeras tidak pernah menaikan dan mengubah sistem tarif sewa. Direktur komersial AP 2, Ghamal Peris, yang dihubungi untuk konfirmasi soal ini, menujuk VP Komunikasi Korporat AP2, Yado Yarismano, untuk menjelaskan persoalan ini. Yado mengemukakan, pihaknya hanya melalukan cost leadership dengan melakukan efisiensi. Misalnya, selama pandemi AP 2 hanya mengoperasional terminal 2 dan 3 Bandara Soekarno Hatta.

BACA JUGA:  Bulog Riau Salurkan 3.156.230 Kg Beras untuk 315.623 KPM di 12 Kabupaten Kota

“Yang dapat kami sampaikan, kami tidak ada mengeluarkan tarif Airport Surcharge atau Contribution seperti yang ada dalam surat (ALFI) tersebut,” katanya.

L

Pos terkait