Nikmat dan Gurihnya Kerupuk Iwak Haruan Olahan Hj Maspah

  • Whatsapp

Wartaniaga com, Banjarmasin – Siapa yang tidak mengenal kerupuk, makanan yang renyah serta gurih ini sering dibuat orang dengan menggunakan tepung dan ikan atau udang sebagai pelengkap rasa gurihnya.

Kerupuk selain buat camilan bisa juga dimakan sebagai tambahan lauk untuk makan nasi atau mie.
Kebanyakan kerupuk berbahan dasar tepung tapioka ditambah dengan ikan laut yang sudah dicampur dengan bumbu sebagai penyedap dan rasa dari kerupuk tersebut.

Lain halnya dengan kerupuk ikan laut, kerupuk iwak Haruan (ikan gabus-red) yang berasal dari sungaipun bisa juga diolah dagingnya untuk pembuatan kerupuk ini.

Salah seorang pembuat kerupuk iwak Haruan adalah Hj Maspah yang beralamat di Kuin Utara Banjarmasin . Dia sudah lebih dari 15 tahun membuat kerupuk yang berbahan ikan gabus ini.

BACA JUGA:  Melek Teknologi, Perempuan Bisa Temukan Peluang Pasar Baru

Binaan dari salah satu BUMN di wilayah kota Banjarmasin ini bisa menghabiskan tepung kanji (tepung tapioca) sebanyak 40kg dalam sekali pembuatannya.

Meskipun masih secara tradisional kerupuk Hj Maspah rasanya tidak kalah dengan kerupuk olahan pabrik. Selain rasanya yang renyah dan gurih, ikan gabus sudah kita ketahui sangat baik untuk pertumbuhan sel yang rusak akibat luka sehabis operasi.

“Kendala yang sering kami hadapi adalah tersedianya ikan gabus yang terkadang mahal harganya akibat kelangkaan ikan pada bulan-bulan tertentu, akibatnya produksi kami berkurang,” ujarnya.

Untuk mengatasi hal tersebut Hj Maspah dan para pembuat kerupuk ikan gabus ini berlangganan dengan pemasok ikan gabus yang rutin mengantar setiap bulannya.

BACA JUGA:  5 Bisnis dengan Modal tidak Lebih dari Rp 1 juta

“Jadi kalau ada datang 100kg maka akan kami bagi-bagi dengan kawan-kawan disekitar sini yang juga membuat kerupuk berbahan ikan gabus ini,”tambahnya.

Untuk menjual hasil dari kerupuk buatannya ini selain menjual langsung di toko depan rumahnya, Hj Maspah juga sudah punya langganan di Pasar Lima dan Pasar Lama Banjarmasin yang selalu rutin untuk pengambilankerupuknya secara grosir.

“Dimasa pandemi ini, penjualan dan produksi kami menurun biasanya sampai 2 kali produksinya dalam sebulan bahkan lebih tetapi sekarang pesanan berkurang paling hanya 1 kali dalam sebulan, apalagi harga tepung naik dari 350 ribu per 50kg sekarang naik menjadi 400 ribu per 50 kgnya,’’jelasnya.

Meski musim penghujan Hj Maspah tidak khawatir untuk menjemur atau mengeringkan kerupuknya, karena sudah mendapat bantuan mesin pengering dari salah satu BUMN diwilayah tempat tinggalnya.

BACA JUGA:  Melalui Pink Movement, Pertamina Dorong UMKM Naik Kelas

Harga kerupuk eceran dijualnya hanya Rp 18.000,- per 200gramnya, selain itu sudah terdaftar LP POM juga bersertifikat halal dari MUI. Dia berharap bisa memanfaatkan media online untuk menjual kerupuk olahannya tersebut, tetapi karena tidak bisa menggunakan tehnologinya maka penjualannya hanya menggunakan secara tradisional saja.

“Alhamdulillah saya bisa menguliahkan anak saya. Semoga setelah lulus kuliah nanti bisa mengembangkan usaha ini, karena saat ini saya tidak mau mengganggu konsentrasi belajarnya,”pungkasnya.

Reporter : Edi Dharmawan
Editor : Nirma Hafizah

L

Pos terkait