Cuncung, Tinggalkan Kursi Senayan Demi Tanah Kelahiran

  • Whatsapp
Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati, SHM-MAR

Di atas meja berwarna putih, ada beberapa snack dan air mineral yang memang disediakan untuk para tamu. Di salah satu sudut atas dinding ada tulisan arab beserta terjemahannya. Tulisan itu berbunyi: Segalanya ini adalah karunia Allah.

Hari itu, Cuncung mengenakan kaos putih polos non-branded dan celana bercorak militer.

Ia memang tak pernah menyukai barang-barang bermerk. Bapak tiga anak itu lebih suka mengenakan pakaian yang sederhana. Dan kesederhanaan itu terus melekat kepada dirinya sejak dahulu sampai sekarang.

Cuncung yang lahir di Pulau Burung, 6 Januari 1977, memang terlahir dari keluarga yang sangat dikenal di Batulicin.

Ayahnya, H Maming, merupakan tokoh masyarakat yang paling dikenang karena kedermawanannya. Menurut Cuncung, ayahnya memang senang membantu orang lain yang sedang tertimpa kesulitan.

BACA JUGA:  Sukamta Resmikan Pinjaman Kredit Tanpa Bunga Khusus UMKM

“Saya ingat pesan beliau. Pertama, kalau kita punya uang, bantulah dengan harta. Kalau tidak, bantulah dengan tenaga. Lalu, kalau harta dan tenaga tidak punya, bantulah orang yang kesusahan dengan pemikiran,” kata Cuncung sambil mengenang sosok H Maming.

Sebagai sosok ayah, kata Cuncung, H Maming merupakan sosok yang tegas, disiplin, dan tak pernah memanjakan anak-anaknya.

Sebagai contoh, meski menjadi anak seorang tokoh masyarakat di Batulicin, kehidupan Cuncung ternyata tak lurus-lurus amat.

Ia sempat menjadi buruh kayu selama dua tahun di dermaga Pasar Lama Batulicin. Pekerjaan itu ia tekuni sekira tahun 2000. Setelah usaha kayu macet pada 2004, ia masih terus mengembara mencari jati dirinya.

BACA JUGA:  Rakor Evaluasi SAKIP, Pemkab Tala Harapkan Nilai Naik

Tahun 2008, ia diajak sang adik, Mardani, untuk bergabung ke Partai Kebangkitan Bangsa yang saat itu masih diketuai oleh KH Abdurrahman Wahid.

Posisi Cuncung saat itu sebagai Ketua PAC PKB Kabupaten Tanah Bumbu. Belakangan, terjadi dualisme di dalam tubuh PKB.

Sebenarnya, Cuncung dan Mardani berupaya bertahan. Namun, ternyata kondisinya tidak memungkinkan. Akhirnya, mereka berdua hijrah ke partai lain. Partai yang menjadi pelabuhan berikutnya adalah PDI Perjuangan.

Di partai berlambang banteng itulah, keduanya bisa berkembang menjadi sosok yang diperhitungkan di Kalsel.

Dipilihnya PDI Perjuangan itu juga atas izin orang tua mereka.

“Kalau tak ada izin orang tua, tak mungkin kami memilih PDI Perjuangan,” ungkapnya, sambil memperbaiki posisi duduknya.

BACA JUGA:  Sukamta Mengarahkan Petani Tanah Laut Agar Memproduksi Bibit Padi

Dalam perjalanannya, Cuncung pernah menjadi Kepala Desa Pulau Burung pada 2011 sampai 2013.

Ia juga dikenal karena menjadi ketua dan pengurus berbagai organisasi penting di daerah ini. Saat ini, ia tercatat sebagai Ketua Yayasan H Maming yang bergerak di bidang sosial.

Sebelum menjadi anggota Komisi III di DPR RI, Cuncung menduduki kursi wakil ketua Komisi III DPRD Kalsel.

Pada Pemilu 2014 itu, Cuncung mendapat suara nomor lima terbanyak se Kalsel dengan 19.930 suara.

Bagi Cuncung, keputusannya maju di ranah politik adalah bentuk pengabdian kepada masyarakat.

Pos terkait